​Dilanda Kekeringan, Petani Cabai Klimpungan 

Petani Cabai Karangrejek Saat Memanen. (Foto: Ist)


Gunungkidulpost.com – Wonosari – Akibat dampak dari kekeringan mambuat hasil panen cabai di wilayah Kecamatan Wonosari menurun drastis dan harga penjaulan pun sangat menjerat para petani.

Petani cabai di Desa Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul mengeluhkan menurunnya harga jual cabai yang dinilai rendah. Sehingga membuat petani semakin merugi saat produksi yang turun akibat kekeringan.
Salah seorang petani cabai di Desa Karangrejek, Suyanti mengatakan, untuk satu kilogram cabai rawit dari tingkat petani hanya dijual Rp 6.000-7.000 per kilogram. Padahal sebelumnya pada harga normal cabai ditingkat petani bisa menembus Rp 15 ribu setiap kilogramnya. Hal ini menyebabkan petani menjadi merugi.

“Turun hampir 50 persen dari harga jual sebelumnya. Jika semula Rp 15 ribu, sekarang menjadi Rp 6.000 per kilogram,” ujarnya, Selasa (19/9/2017).

Suyanti mengatakan, hal ini sangat merugikan bagi petani cabai seperti dirinya. Pasalnya dengan harga jual sebesar Rp 15 ribu itu saja dirinya hanya mendapatkan untung kecil.

“Dengan harga Rp 15 ribu tentut sangat sulit untuk mendapat keuntungan,” paparnya.

Belum lagi ditambah dengan ongkos produksi seperti pembelian pupuk, pembelian air di saat kekeringan yang terus melanda.

Dia pun terpaksa menjual rugi cabai-cabainya.

“Daripada tak terjual, malah busuk. Kami menjualnya dengan harga murah. Kalau secara perhitungan, kami sangat merugi,” ucapnya.

Suyanti pun berharap agar hujan bisa segera turun, agar tanaman cabai milik para petani bisa tumbuh maksimal serta mereka tidak harus menanggung rugi akibat kekeringan yang melanda.

“Kami harapkan agar segera hujan, karena jika terus seperti ini kami akan merugi,” tutupnya. (Bayu)

Related Post