1 Suro, Pengkol Gelar Kirab Pusaka

image

Pusaka Diarak Sebagai Rangkaian Kegiatan 1 Suro. (Foto: Santi)

Gunungkidulpost.com – Nglipar -Pasukan lombok abang nampak berjajar rapi seiring dengan munculnya rombongan pria berpakaian adat jawa dengan menggenggam erat tombak dan keris di tangannya masing-masing. Tombak dan keris bukan sekedar mainan melainkan pusaka warisan para leluhur.

Pusakan di arak menuju rumah budaya, kemudian di terima oleh para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta untuk ditempatkan di tempat yang telah di persiapkan.

Itulah suasana yang tergambar pada upacara adat kirap pusaka yang di gelar di Dusun Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Kamis,(21/09/2017).

“Upacara adat ini sudah berjalan lima tahun sejak 2012 lalu, kita gelar di setiap tahun baru Islam, atau satu suro,” jelas sesepuh di Desa Pengkol, Wagino.

Menurut dia, kirap pusakan dilaksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya dengan tujuan untuk menghilangkan sukerto, balak mala petaka atau energi-energi negatif yang berada di Desa Pengkol. Dalam kirap tersebut para peserta kirap berdoa memohon kepada Allah supaya desa mereka menjadi ayom, ayem, tentrem, gemah ripah lohjinawi.

“Kirab kita mulai dari rumah budaya sebagai sentral pemberangkatan menuju Desa Kedungpoh sebagai penerima pusaka, dilanjutkan menuju pesarean Ki Ageng Damarjati,” terang Wagino.

Di pesarean Ki Ageng Damarjati, selain mendoakan, peserta kirap juga sekaligus menuakan (nyepuhke) wesi aji atau pusaka yang mereka bawa, dengan harapan mereka mendapat barokah atas ijin dan ridho Allah SWT.

Adapun pusaka utama yang di kirap yakni Payung Agung, Tombak Korowelang, Cemethi Pamuk yang diikuti pusaka masyarakat yang berbeda – beda jumlahnya di setiap tahun.

“Hal itu tergantung antusiasme dan partisipasi masyatakat,” ujar Wagino.

Lebih detail Wagino menjelaskan, Payung Agung menggambarkan pengayoman untuk memayungi masyarakat. Sedangkan Tombak Korowelang yang dilenggahi Kyai Umbul Katon. Umbul itu sumber air yang menggambarkan kehidupan supaya subur, makmur. Cemethi Pamuk yang dilenggahi Kyai Landung atau Kyai Danumoyo, sambung Wagino, Landung itu longgar, menggambarkan supaya panjang umur, panjang pemikiran, panjang rejeki.

Sedangkan Danumoyo yaitu cahaya yang gemerlap yang tidak tampak, menggambarkan harapan supaya ada aura yang terang menyinari bumi atau diri pribadi.

Setelah melakukan prosesi ritual di pesarean Ki Ageng Damarjati, peserta kirap kemudian kembali menuju kelokasi awal yaitu rumah budaya. Sesampai di rumah budaya, pusaka kembali diletakan ditempat semula. Tidak berhenti sampai disitu, prosesi kemudian berlanjut dengan tradisi Nguras Gentong.

“Warga antre berjejal untuk mendapat air dari dalam gentong yang kita letakan dalam pendapa kecil berselimutkan kain putih,warga percaya bahwa akan mendapat berkah dengan air tersebut,” terangnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Gunungkidul, Suharno, SE menyampaikan, bahwa ini merupakan tradisi yang harus dilestarikan. Sudah kewajiban masyatakat untuk  nguri-nguri kabudayan.

“Semoga ini bisa terus berjalan menjadi agenda tahunan, dan kedepannya bisa disajikan dengan lebih menarik lagi,” tuturnya.

Suharno berharap, Desa Pengkol bisa selalu aktif dalam meningkatkan serta menjaga kebudayaan lokal. Tardisi ini di nilai dapat memberikan nilai plus tersendiri untuk Desa Pengkol, asal masyarakat dan pemerintah selalu berkerjasama  untuk mengelola dan terus menggali potensi yang ada. (Santi)

Posted from WordPress for Android

Related Post