15 Ribu Desa Tertinggal Naik Pangkat

65 views

Gunungkidulpost.com – Karangmojo – Sebanyak 15.000 desa yang ada di Indonesia berhasil naik peringkat dari desa teringgal menjadi desa berkembang.

Data tersebut diperoleh dari beberapa lembaga kajian pedesaan di UGM dan Pak Ivanovic dari IPB (Sosiolog IPB Ivanovic Agusta).

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan dari data beberapa lembaga, dana desa berhasil mengurangi desa tertinggal hingga belasan ribu.

Namun demikian, pihaknya masih menunggu data resmi dari Badan Pusat Statistik.

“Kita lagi nunggu data dari BPS tetapi beberapa lembaga, salah satu lembaga kajian pedesaan di UGM dan Pak Ivanovic dari IPB (Sosiolog IPB Ivanovic Agusta),” katanya kepada Gunungkidulpost.com, Jumat (25/5/2018).

Menurut dia, waktu tiga tahun sampai bulan april desa tertinggal yang berhasil naik peringkatnya dari desa tertinggal ke desa berkembang ada 15 ribu dari 20 ribu.

Dia berharap pemerintah desa untuk tidak takut menggunakan Dana Desa untuk pembangunan. Jangans sampai takut menggunakan dana desa karena pihak pemerintah melalui Satgas Desa akan mendampingi kepala desa jika memang tidak melakukan korupsi, dan hanya terjadi kesalahan administrasi.

“Gak perlu takut gunakan dana desa, yang penting jangan di korupsi, kalau dikorupsi saya gak ada pilihan saya tangkap. Jadi jangan takut, kepala desa yang melakukan kesalahan administarsi tidak berhak di kriminalisasi,” ungkap Eko.

Eko mengatakan, pemerintah masih melakukan kajian terhadap kenaikan anggaran dana desa tahun depan.

Diperkiran pemerintah akan mengucurkan anggaran Rp 73 Triliun hingga Rp80 Triliun.

“Aturan penggunaan juga akan dipermudah dengan banyaknya aturan yang dihapus dengan aturan baru yang memudahkan desa,” ucapnya.

Lebih lanjut Eko berharap, dana desa sebagai stimulus saja, desa bisa mengembangkan mandiri melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sehingga memperoleh pendapatan sendiri.

Pemerintah pun mendorong melalui pelibatan BUMN dan swasta untuk meningkatkan roda perekonomian BUMDes.

“Pengelolaan daerah wisata yang bagus, tadi saya sudah minta sekarang kan wisatawan datang pagi, sore pulang jadi tidak nginep,” bebernya.

Pihaknya mengapresiasi perubahan dari pertanian ke Pariwisata mampu mengurangi angka kemiskinan di Kabupaten Gunungkidul dari 23 persen turun menjadi 17 persen.

Penurunan 5 persen selama 3 tahun cukup bagus, meski masih diatas rata-rata nasional.

“Kalau ini konsisten kita melakukan pendampingan, sehingga desa wisata lebih berkembang, saya yakin 5 tahun lagi tidak ada kemiskinan di Gunungkidul,” pungkasnya. (Bayu Prihartanto)

Related Post