Akibat Gempa Palu, Raisa Rela Kehilangan Kaki Dan Ayahnya

55 views

Gunungkidulpost.com – Paliyan – Gempa besar yang mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9/2018) menyebabkan ribuan orang meninggal dunia.

Salah satunya Suryanto asal Desa Karangasem Paliyan harus meninggal dunia karena tertimpa bangunan. Sedangkan anaknya Raisa Putri Adila yang berusia 19 bulan, harus kehilangan kaki kanannya karena diamputasi.

Hari Sabtu (13/10/2018), keduanya diantar oleh relawan Muhammadiyah Yogyakarta pulang ke Dusun Mengger, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul.

Dari pantauan Sabtu petang, puluhan warga dan sanak saudara sudah menunggu di rumah yang cukup besar, dan baru selesai dibangun Suryanto beberapa bulan lalu. Raisa tampak digendong oleh kerabatnya, balita kecil itu tampak tenang meski kaki kanannya terdapat perban sehabis operasi amputasi.

Salah seorang relawan dari Muhhamadiyah, Irvan Yusuf menceritakan, relawan Muhammadiyah dari Yogyakarta yang membantu korban bencana mendapatkan informasi mengenai adanya korban yang berasal dari Yogyakarta, tiga hari pasca gempa atau pada hari Senin (1/10/2018).

“Ketika operasi SAR di Palu, kita mendapatkan informasi mengenai adanya warga Yogyakarta yang menjadi korban. Kemudian kita menemukan dik Raisa ini,” jelasnya.

Suasana kacau saat itu, membuat Wahida (ibu Raisa) tidak menemukan anak dan suaminya.

“Bapaknya tertimpa beton rumah, Raisa kakinya terjepit beton,” ucap Wahida.

Permintaan dari keluarga, lalu keduanya dibawa pulang ke Gunungkidul, dan dari relawan Muhammadiyah akan melakukan pendampingan psikologis dan medis hingga balita itu sembuh nantinya.

Adik Suryanto, Heru Lukito menambahkan, pihak keluarga ingin agar Raisa bisa tumbuh besar di desa Karangasem. Apalagi Suryanto sudah membangun rumah cukup megah sebelum peristiwa itu terjadi.

“Keluarga ingin Raisa di Jawa saja, sampai besar besuk. Ibunya juga disini. Jika ingin pulang menengok keluarga disana gak apa-apa,” katanya.

Suryanto merupakan warga Dusun Mengger, dan menikah dengan Wahida warga asli Palu. Suryanto sudah tinggal di Palu sejak sekitar tahun 2006, disana dirinya bekerja di percetakan, dan berbisnis percetakan. Selama tinggal di Palu, dia sering pulang. Kurun waktu 2018, sudah beberapa kali pulang kampung.

“Januari lalu (2018) pulang, lalu lebaran juga pulang. Rencananya Desember besuk juga pulang,” ungkap Heri. (G1)

Related Post