Arimbi Dan Tetuko Dikembalikan Ke Habitatnya

140 views

Gunungkidulpost.com – Playen – Setelah melepasliarkan satwa dilindungi Elang Brontok di Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Playen, pada tahun 2018 silam, Yayasan Konservasi Yogyakarta bekerja sama dengan Balai KSDA Yogyakarta dan Balai Taman Hutan Raya Bunder kembali akan melepasliarkan dua ekor elang, Rabu, (22/5/2019) di kawasan Stasiun Flora Fauna – Tahura Bunder, Desa Gading,Kecamatan Playen.

Dokter hewan Balai KSDA Yogyakarta drh. Yuni Tita Sari mengatakan, dua jenis elang yang dilepas liarkan yakn Elang Ular Bido atau Spilornis cheela) dan seekor Elang Alap Jambul (Accipiter trivigatus).

Pelepasan satwa dilindungi Ini sekaligus memperingati Hari Keanekaragaman hayati (KEHATI) dunia tahun 2019 dengan mengusung tema Our biodiversity, Our food and Our Health.

“Kegiatan pelepasliaran merupakan upaya pengawetan satwa,” kata Yuni.

Yuni memaparkan, Elang Ular Bido berjenis kelamin betina satu ekor dinamai Arimbi direhabilitasi di sejak April 2018 dan Elang Alap Jambul berjenis kelamin jantan satu ekor dinamai Tetuko, direhabilitasi dari Mei 2018 silam.

“Kurang lebih satu tahun direhabilitasi dan diobservasi baik kesehatan dan perilakunya, akhirnya kedua satwa tersebut direkomendasikan untuk bisa dikembalikan ke alam,”ujarnya.

Lebih lanjut Yuni menyampaikan, kedua burung pemangsa tersebut berasal dari penyerahan warga Sleman Yogyakarta kemudian terus dimonitor dari sisi kesehatan medisnya dan juga perilakunya apakah sudah layak untuk dilepasliarkan.

Sementara itu,Kepala BKSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, MT mengatakan, salah satu tujuan utama dari rehabilitasi satwa, yaitu pengembalian satwa liar ke alam.

“Ini salah satu harapan dari kegiatan konservasi satwa liar, bahwa satwa dapat kembali lagi ke alam ”, tuturnya.

Yunita mengatakan,raptor merupakan top predator sehingga dengan kegiatan pelepas liaran satwa ini diharapkan akan membantu keseimbangan ekosistem.

Di Indonesia keluarga raptor / burung pemangsa yang masuk dari family Accipitridae dan Falconidae termasuk satwa dilindungi Undang-undang (pada Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa liar.

Pada kesempatan yang sama,Andie Chandra Herwanto, S.Hut., M.Sc selaku Pengendali Ekosistem Hutan, BKSDA Yogyakarta menyampaikan, dipilihnya kawasan Tahura Bunder sebagai tempat pelepasliaran burung pemangsa memiliki sejumlah alasan,antara lain kecukupan sumber pakan alami dan kesesuaian habitat.

“Kegiatan pelepasliaran satwa ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan motivasi banyak pihak yang peduli dan bisa membantu pelestarian keanekagaman hayati di Yogyakarta,”imbuhnya. (Santi)

Related Post