Baru Enam Sekolah Siaga Bencana Dikukuhkan, Yang Lain Kapan?

58 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sampai saat ini belum melakukan pengukuhan terhadap sekolah siaga bencana (SSB).

Pengukuhan urung dilakukan lantaran keterbatasan anggaran yang dimiliki. Sehingga ratusan sekolah yang berada di daerah rawan hanya sebatan menerima predikat SSB saja.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, dari total 778 sekolah SSB di Gunungkidul baru ada enam yang dikukuhkan.

Keenam sekokah tersebut diantaranya; SMAN 1 Pathuk, SMPN 3 Ponjong, SMPN 3 Nglipar, SD Buyutan Gedangsari, SMK N Tancep.

“Kebanyakan dari sekolah itu rawan bencana longsor dan banjir. Sayangnya baru enam sekolah yang dikukuhkan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki kepada wartawan, Kamis (17/5/2018).

Menurut dia, anggaran yang diperoleh BPBD Gunungkidul dibantu dana APBD provinsi. Sementara untuk APBD kabupaten minim. Sehingga pengukuhan belum menyasar seluruh sekolah lantaran keterbatasan dana.

“Kalau cuma dari kabupaten minim, sekarang antisipasi kekeringan juga butuh dana besar,” ucap Edy.

Meski demikian lanjut Edy pihaknya tetap berupaya memberikan penanganan yang tepat untuk sekolah bersangkutan. Adapun caranya dengan koordinasi langsung dengan desa tangguh bencana.

“Basanya untuk siasati hal itu kami berkoordinasi dengan desa tangguh bencana (destana), jadi teknisnya saat kami adakan penyuluhan ke desatana sekaligus kami ikut sertakan sekolah yang bersangkutan di desa itu,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Bahron Rasyid mengatakan program SSB memang bagus, tapi tidak harus semua sekolah, sebab kini pembelajaran ihwal antisipasi bencana sudah rutin dilakukan.

Pihaknya juga telah menginstruksikan seluruh sekolah untuk memperhatikan infrastruktur bangunan guna antisipasi bencana.

“Kami fokus di akses masuk dan keluar, jadi sudah kami instruksikan ke seluruh sekolah minimal dalam satu ruang memiliki dua pintu. Selain itu, baik guru, pegawai, maupun siswa sekarang sudah ada penyuluhan dan sosialisasi rutin tentang bencana, jadi sebenarnya tidak perlu semua,” pungkasnya. (G1)

Related Post