Begini Kesiapan BPBD Menghadapi Musim Hujan

image

Foto: Dok Gunungkidulpost.com

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Menghadapi musim penghujan saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, mulai melakukan persiapan diantaranya adalah dengan membentuk desa-desa tangguh bencana.

“Kita sudah mempersiapkan masyarakat dengan membentuk desa-desa tangguh bencana, lalu juga kita meningkatkan kapasitas masyarakat dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” tutur Kepala Seksi Kedaruratan dan Logisitik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gunungkidul, Sutaryono, Senin (20/11/2017).

Ia mengatakan ada sekitar 40 desa yang sudah dipersiapkan, dan hal tersebut menjadi sangat penting karena dengan kesiapsiagaan itu, masyarakat jadi lebih peka dalam mengantisipasi bahaya.

“Di semua kecamatan ada, kan di Gunungkidul ini kearifan lokalnya sanat tinggi, sehingga kami memanfaatkan hal tersebut dalam membantu mengevakuasi korban, sehingga korban jiwa pun bisa diminimalisir,” bebernya.

Saat ini, BPBD Gunungkidul dalam mengevakuasi korban longsor masih menggunakan alat manual seperti cangkul, hal itu diutarakan oleh Sutaryono.

Tidak menggunakan alat berat dikarenakan tidak semua daerah bisa dilewati.

“Kalau satu dua orang yang mencangkul ya lama, tapi di Gunungidul ini gotong royongnya sangat tinggi, sehingga tanpa ada perintah pun masyarakatnya langsung turun membantu, biasanya sampai ratusan masyarakat yang membantu, itu yang menjadi keistimewaannya,” ungkapnya.

Sutaryono menjelaskan, ada seratus lebih titik rawan bencana longsor di Gunungkidul, namun untuk daerah yang paling sering terjadi longsor yaitu Gedangsari, Semin, Nglipar, dan Ponjong apabila curah hujan sudah sangat tinggi.

Selama ini kendala yang sering dihadapi ada pada lokasi dan medan yang akan dilalui oleh tim BPBD ketika akan melakukan evakuasi bencana. Terlebih lagi medan yang ada di Gunungkidul rata-rata berbukit, dan jauh.

“Lokasi yang paling banyak membutuhkan waktu yaitu Gedangsari, sekitar memakan waktu 45 menit, belum lagi ada medan yang tidak bisa dilewati mobil dan motor, sehingga kita harus jalan kaki,” tutup Sutaryono. (Heri)

Posted from WordPress for Android

Related Post