Belasan Kasus Hantui Palajar Putus Sekolah

image

Ilustrasi. Net

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Kasus kekerasan seksual yang menimpa anak di bawah umur wilayah DIY cukup tinggi.

Dari dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rifka Annisa selama kasus ampai Maret 2017, sudah ada sekitar 15 kasus ditangani Rifka Annisa.

“Tahun 2017 terdapat 15 anak, angka ini tergolong tinggi, dan mencerminkan anak rentan jadi korban kekerasan seksual,” kata Legal and Research Officer Rifka Annisa, Triantono di Gunungkidul Rabu (3/5/2017).

Untuk tahun 2016 terdapat 43 kasus meliputi kekerasan terhadap istri 1 kasus (Pernikahan dibawah Umur), kekerasan dalam pacaran 3 kasus, perkosaan 23 kasus, pelecehan seksual 6 kasus, kekerasan dalam keluarga 3 kasus, trafficking 5 kasus, dan kekerasan terhadap anak 2 kasus. 

Menurut dia, selama ini anak korban kekerasan tak mau melanjutkan sekolah. Hanya sekitar 20 persen yang melanjutkan sekolah, padahal hak pendidikan setiap anak wajib diperoleh. “Hanya 20 persen yang mau melanjutkan. Mereka (korban) trauma dan Hampir semua tidak mau (melanjutkan studi),”sesalnya.

Beerbagai faktor yang menjadikan anak tak mau melanjutkan studi. Beberapa faktor diantaranya Teman, Sekolah, keluarga, dan lingkungan. Banyak dari anak setelah menjadi korban kekerasan mereka menjadi korban bullying. Pihak sekolah juga membatasi korban kekerasan, seperti adanya kebijakan sekolah mengharuskan siswa yang terlibat kasus keluar sekolah.

“Saat masuk sekolah ada surat pernyataan, yang intinya kalau ada kasus hamil di luar nikah, siswa tersebut harus mengundurkan diri,” imbuhnya.

Triyanto berharap tak ada lagi kebijakan serupa. Sehingga anak mengalami kekerasan seksual bisa melanjutkan pendidikan dan masa depannya kembali terbuka.

“Jangan membully korban kekerasan seksual karena hal ini semakin menyudutkan dan sulit untuk mereka kembali bersemangat untuk sekolah,” pungkasnya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post