BPOM Tari Obat Jenis Ranitidin, Begini Penjelasan Dinkes

191 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) saat ini melakukan penarikan sejumlah produk obat yang mengandung Ranitidin dari Peredaran.

Akan tetapi, Raniditine yang beredar di Gunungkidul dinilai masih aman untuk dikonsumsi.

Ranitidin merupakan obat untuk mengurangi jumlah asam lambung dalam perut. Obat tersebut berfungsi untuk mengatasi dan mencegah rasa panas perut, maag dan sakit perut yang disebabkan oleh tukak lambung.

Sebelumnya BPOM telah melakukan pengujian terhadap sampel produk obat Ranitidin. Dari hasil uji tersebut menyimpulkan 5 produk obat Ranitidin mengandung cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) melebihi ambang batas normal.

Adapun 5 merek obat Ranitidin tersebut adalah : Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL diedarkan oleh PT Phapros Tbk, Zantac Cairan Injeksi 25 mg/mL diedarkan PT Glaxo Wellcome Indonesia, Rinadin Sirup 75 mg/5mL diedarkan oleh PT Global Multi Pharmalab, Indoran Cairan Injeksi 25 mh/mL diedarkan PT Indofarma, Ranitidine Cairan Injeksi 25 mg/mL diedarkan PT Indofarma.

Saat dimintai keterangan mengenai hal tersebut Kepala Dinas Kesehatan, Dewi Irawati menuturkan pihaknya telah mendapatkan release dari BPOM terkait jenis dan pabrik tertentu dari Raniditin yang dilarang untuk dipergunakan.

“BPOM telah menginformasikan pada 17 September 2019 mengenai penarikan obat raniditin. Dari Kemenkes dan Dinkes DIY kami juga belum ada informasi dan perintah.” jelasnya saat dihubungi Gunungkidulpost.com, Rabu (16/10/2019).

Menurut Dewi, Ranitidin yang beredar di Gunungkidul belum ada yang masuk dalam daftar catatan 5 obat yang ditarik oleh BPOM, yang disebutkan direleasenya. Pihaknya sedang mendata pabrik mana saja yang yang memasok raniditne di Gunungkidul.

“Namun untuk menjaga hal tersebut, kami telah meminta Puskesmas untuk tidak mempergunakan ranitidin dulu sampai ada kepastian dari pabrik bahwa ranitidin yang ada di Gunungkidul aman atau dalam dosis aman,” pinta Dewi.

Munurut Dewi, bahayanya Raniditin bila dikonsumsi melampaui ambang batas secara terus-menerus dalam waktu yang lama, NDMA akan bersifat karsinogenik atau memicu kanker.

“Obat ini kalau dikonsumsi melampaui ambang batas akan memicu kanker,” imbuhnya.

Sementara itu, Apotiker Puskesmas Playen 2, Mahendra Agil Kusuma mengatakan pihaknya telah menerima himbauan dari Dinas Kesehatan untuk menghentikan sementara pemakaian obat tersebut.

“Sudah ada hibauan, dan mulai hari Sabtu (12/10/2019) lalu kita tidak memberikan resep obat yang ada raniditin untuk menjaga keamanan.” ujarnya.

Imbuh Mahendra, untuk menanggulangi tidak diberikannya obat yang mengandung raniditin, pihaknya memberikan pilihan terapi lain yang digunakan sebagai obat tukak lambung.

“Kami mengalihkan ke obat yang lain sebagai penggantinya,” ujarnya. (Falentina)

Related Post