Dana Keistimewaan Dinilai Belum Merata

364 views

image

Ilustrasi. Net

Gunungkidulpost.com – Playen – Dana Keistimewaan (danais) hingga sekarang dinilai tidak merata. Hal itu lantaran kucuran dana belum sampai ke tingkat padukuhan.

Untuk itu, Paguyuban Kepala Dusun se-DIY, Semar Sembogo menilai distribusi anggaran dana keistimewaan idealnya dapat diakses ke semua warga untuk kegiatan pembangunan dan sosial budaya.

Ketua Semar Sembogo, Sukiman Hadi Wijoyo mengatakan, danais saat ini hanya dapat diakses kalangan tertentu. Hal itu mengakibatkan tidak meratanya anggaran keiatimewaan hingga tingkat padukuhan.

“Kedatangan kami ke Gunungkidul untuk mensosialisasikan Undang-Undang Keistimewaan. Dan banyak sekali yang belum tau cara mengaksesnya,” katanya saat melakukan sosialisasi tentang Undang-Undang Keistimewaan (UUK) di Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Pada Selasa (7/3).

Menurutnya, danais seharusnya dapat dikelola melalui birokrasi, secara terbuka. Ketidaktahuan masyarakat luas terhadap akses danais menurutnya karena pemerintah tidak melakukan sosialisasi secara menyeluruh. Selain itu, sistem yang dibuat untuk pendistribusian dana miliaran rupiah itu juga dinilai kurang terbuka. Padahal menurutnya seluruh masyarakat membutuhkan dan memiliki hak atas dana tersebut.
Namun selama ini yang terjadi, masyarakat secara umum tidak banyak yang mengetahui perihal akses danais.

“Ketika kami melakukan sosialisai  malah dikira terlalu mengkritisi UUK, padahal sejatinya sosialisai yang kami lakukan adalah untuk menyuarakan kepada pemimpin daerah di setiap kabupaten agar danais sampai ke desa dan juga dusun.

Pihanya pun berharap, setiap desa dapat dialokasikan sebesar Rp100 juta dan setiap dusun Rp20 juta. Sehingga dana keistimewaan tersebut dapat benar-benar rata. agar merata.

“Harapan kami untuk dialokasikan dana sebesar Rp 20 juta tiap padukuhan,” tandasnya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul Badingah mengatakan, danais tahun 2017 antara lain digunakan untuk membiayai kegiatan seperti promosi kebudayan daerah, pengembangan desa budaya, pengelolaan nilai-nilai sejarah dan penyelenggaraan event kebudayaan seperti pentas wayang kulit.

“Anggaran untuk pementasan wayang kulit telah dianggarkan melalui Danais sebanyak 20 kali,” jelasnya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post