Dituding Mempersulit Aturan, Begini Penjelasan BRSPA

image

Kepala Balai RSPA, Endang Irianti saat ditemui Gunungkidulpost.com. (Foto: Bayu)

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Pasca tudingan kabar bahwa adanya penolakan anak miskin dan terlantar di Wonosari yang dilakukan oleh Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak (BRSPA) Dinas Sosial DIY yang bertempat di Padukuhan Ledoksari, Desa Kepek, Wonosari akhirnya terjawab sudah.

Dava Muhammad Tiyas (12) salah satu warga Desa Wareng, Kecamatan Wonosari yang sempat tidak diterima oleh pihak BRSPA saat ini masih dalam proses pendampingan oleh tim petugas.

Petugas pun akan segera mengirimkan tim untuk melakukan pendampingan oleh anak tersebut dengan sifat pengasuhan diluar lembaga.

“Kami segera melakukan reasesment dan tetap akan kami dampingi sehingga anak tersebut benar – benar terlindungi tidak terlantar dan kami akan rekomendasi untuk pengasuhan  meski dilakukan diluar lembaga,” kata Kepala Balai RSPA, Endang Irianti saat ditemui Gunungkidulpost.com, pada akhir pekan lalu.

Menurut Endang, munculnya peraturan baru membuat penyaringan rujukan anak juga berubah dibanding dengan sebelum tahun 2012 lalu.

Bahkan saat inipun telah dilakukan pergantian nama kelembagaan, yang semula Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) kini berganti menjadi Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak (BRSPA). Tentunya hal itu akan sangat berpengaruh mengenai anak rujukan yang akan masuk di BRSPA.

“Kami sudah mengacu pada standar pengasuhan anak yang ada kaitannya dengan undang – undang perlindungan anak. Bahkan kami pun juga telah berusaha memenuhi standar pelayanan publik sesuai dengan konteks aturan yang ada. Jangan sampai BRSPA dijadikan tujuan utama untuk menyelesaikan permasalahan anak miskin dan terlantar,” bebernya.

Dia menambahkan, mengenai Dava Muhammad Tiyas (12) salah satu warga Desa Wareng, Kecamatan Wonosari, pihaknya pun akan segera mendatangi pihak keluarga terutama nenek dan kakeknya untuk dilakukan reasesment. Sehingga wacana kedepan anak tersebut akan tetap menjadi bagian dari pengawasan BRSPA meskipun tidak harus bertempat  tinggal di BRSPA.

“Anak ini akan menjadi bagian dari pendampingan kami diluar balai. Meski tidak masuk ke BRSPA namun  pengasuhan dapat kami dilakuakan diluar BRSPA sehingga nantinya akan mendapatakan hak untuk hidup yang dijamin oleh pemerintah. Itulah solusi yang terbaik, jadi sama-sama mendapatkan pengasuhan baik dari sembahnya maupun dari pihak BRSPA,” pungkas Endang. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post