Garam Mahal, Produsen Telur Asin Memilih Berhenti

image

Gunungkidulpost.com – Ponjong -Kenaikkan harga garam sangat dirasakan oleh sejumlah pelaku industri kecil menengah di Gunungkidul. Salah satunya industri kecil pembuatan telur asin, yang kini memilih untuk berhenti produksi lantaran harga garam yang tinggi.

Garam yang menjadi salah satu bahan pokok pembuatan telur asin, harganya melambung tinggi sejak sekitar satu bulan terakhir. Hal itu pun membuat industri telur asin kembang kempis.

Salah seorang pembuat telur asin di Desa Sumbergiri, Kecamatan Ponjong, Umi Nadia mengatakan, ia memilih untuk berhenti berproduksi telur asin, Umi yang baru saja merintis usaha produksi telur asin mengaku tidak cukup modal untuk membeli garam yang harganya melambung.

“Sudah beberapa hari kemarin saya berhenti produksi karena tingginya harga garam. Untuk membeli garam saja modalnya tinggi, dan keuntunganya tidak seberapa,” katanya, Kamis (3/8/2017).

Garam untuk membuat telur asin, mulanya per kilogram hanya sekitar Rp3.000, namun kini harganya sudah mencapai Rp10.000 per kilogram. Hal itu yang kemudian membuatnya menurunkan produksi, hingga akhirnya menghentikan produksi telur asin.

Namun demikian, hal tersebut tidak terjadi pada industri telur asin skala besar. Pasalnya bagi industri yang memiliki modal besar, malah kebanyakan akan meningkatkan produksi. Pasalnya di pasaran telur asin saat ini langka sehingga permintaanya sangat tinggi.

“Bagi industri yang memiliki modal besar, yang biasanya produksi 300 butir per hari kini malah meningkatkan produksinya sampai 500 butir telur per hari,” ujarnya.

Umi berharap, pemerintah dapat memberikan solusi bagi para pelaku usaha kecil seperti dirinya. Tingginya harga garam diharapkan segera dapat ditekan. Terlebih dia berharap pemerintah dapat mengembangkan tambak garam di Gunungkidul, agar kebutuhan garam di tingkat daerah tetap dapat tercukupi. (Heri)

Posted from WordPress for Android

Related Post