Gelar Malesti, Ribuan Umat Hindu Arak-arakan Di Pantai Ngobaran

202 views

Gunungkidulpost.com – Saptosari – Dengan mengenakan pakaian adat Bali, ribuan umat Hindu dari berbagai daerah di Gunungkidul berarak-arakan membawa gunungan berupa hasil panen menuju pantai Ngobaran yang terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari.

Suara lonceng berbunyi, mengiringi langkah mereka menuju pelataran pantai untuk meletakan gunungan dan sesajen berupa satu bungkus rokok dan ingkung. Selanjutnya, tarian tradisionalpun ditampilkan dengan iringan musik gamelan. Itulah suasana yang tergambar dalam acara Melasti di Pantai Ngobaran, Selasa (12/2/2019).

Upacara Melasti merupakan rutinitas tahunan umat Hindu menjelang hari raya Nyepi yang bertujuan untuk melarung (membuang) segala kotoran yang ada di tubuh dan fikiran umat. Yaitu dengan membersihkan segala buana agung dan buana alit.

Selain itu juga membersihkan pratime-pratime dan Jempana di pura, untuk menghadap Sang Hyang Baruna guna memohon berkah dan tirta suci sehingga menjadi air kehidupan yang bermanfaat secara lahir dan batin.

Pantai Ngobaran dipilih lantaran mempunyai nilai sejarah tinggi bagi umat Hindu, karena dipercaya di Pantai Ngobaran ini Prabu Brawijaya V, raja kerajaan Majapahit pernah melakukan tapa, brata, yoga, dan samadhi sehingga mencapai kesempurnaan hidup (moksa).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Kabupaten Gunungkidul, Purwanto mengatakan, upacara melasti adalah upacara wajib bagi umat Hindu untuk melarung segala kekotoran yang ada di jagat agung.

“Umat Hindu yang ada di Gunungkidul membawa Cempana, Dhewate, Bakulub, Pratime dari seluruh Pura yang ada di Gunungkidul untuk bersama-sama nanti dilarung di Pantai Ngobaran untuk mensucikan alam semesta,” terangnya.

Purwanto menyampaikan satu hari sebelum upacara Nyepi umat hindu akan melakukan upacara Tawur Agung di Pelataran Candi Prambanan, upacara tersebut adalah simbol untuk membayar semua yang telah mereka nikmati di bumi ini.

Adapun upacara Melasti terdiri dari beberapa prosesi yaitu Parade Jempana, Pratima, dan Gunungan. Kedua upacara Melasti, ketiga Grebeg Gunungan, keempat Labuhan dan Grebeg Nyepi.

Sementara itu Ketua PHDI pusat, Mayjen TNI (purn) Wisnu Bawa Tenaya mengatakan, Umat Hindu tidak hanya di Jawa dan Bali saja tetapi ada dj seluruh Indonesia.

Untuk itu melihat, melihat Hindu harus Komprehensif yaitu harus melihat peradaban, budaya, agama, adat dan seni.

“Seperti saat ini kita menyuguhkan adat-adat Jawa. Inilah yang kita coba yaitu mengajak berkesadaran kepada seluruh anak Bangsa untuk membangun harmoni di bumi Pancasila,” tuturnya.

Ia menuturkan Dharma negara dan Dharama agama, untuk Dharma negara adalah mengimplementasikan Pancasila. Dharma agama adalah dasar dari Hindu tersebut.

“Jaga kebhinekaan ditambah lagi tahun ini adalah tahun politik. Kita harus menjaga kedamaian, damai di hati, dan damai di akhirat nanti,” tutupnya. (Santi)

Related Post