Gubernur DIY Resmikan Flaying Fox Terpanjang Se-Asia Tenggara

image

Gubernur DIY Meresmikan Flaying Fox Terpanjang Di Asia Tenggara. (Foto: Santi)

Gunungkidulpost.com – Gedangsari – Flaying Fox sepanjang 625 (FF625) meter yang berada di kawasan wisata Green Vilage di Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari telah selesai dalam pembangunannya.

Dalam kesempatan kali ini Gubernur DIY, Sultan Hamengku Buwono X bersama Bupati Gunungkidul, Badingah meresmikan Flaying Fox terpanjang di Asia Tenggara ini, Rabu (30/8/2017).

Bupati Gunungkidul, Badingah menyampaikan bahwa pengembangan kawasan wisata Gedangsari di mulai dengan rintisan Desa Wisata dan Budaya yang didukung potensi alam dan kearifan lokal, yang tentunya akan berdampak terhadap sosial, perekonomian masyarakat di kawasan ini.

“Perkembangan akan membawa pengaruh posistif bagi masyarakat, semakin terbuka kesempatan untuk mereka, dan juga prospek infestasi bisnis yang berbasis pariwisata maupun budaya,” tuturnya.

Pemkab Gunungkidul juga mengucapkan terimaksih kepada pemerintah pusat atas keterlibatannya dalam pembangunan kawasan wisata Gedangsari ini.

Pemerintah juga menyambut positif minat masyarakatdalam meningkatkan kwalitas wisata, dengan terus menggali kreativitas, inovasi, dan juga potensi lokal yang prospektif di kawasan ini. Pemkab sangat mendukung, komitmen masyarakat Gedangsari, untuk terus mengembangkan kawasan wisata ini.

“Semoga ini dapat meningkatkan perekonomian dan mengurangi angka kemiskinan di kawasan ini,” imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur DIY menyampaikan bahwa dengan semakin berkembangnya kawasan wisata di Gedangsari ini, diharapkan pihak pengelola dapat meningkatkan pelayanam dan juga fasilitas yang ada.

“Perlunya tanah yang cukup untuk membangun tempat parkir, agar tidak semrawut dan lebih tertata,” tutur Sri Sultan.

Beliau berharap, Gedangsari bisa tumbuh dan berkembag seperti daerah lain. Menurutnya, FF 265 ini akan membawa nuansa baru bagi anak muda, yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan Gunungkidul.

“Gunungkidul akan semakin dikenal, jalanan akan macet, namun kita tidak punya pilihan lain, karena semua itu dalam upaya kita bersama dalam mengembangkan Gunungkidul,” jelasnya.

Gubernur berharap dengan munculnya obyek wisata baru di setiap daerah, itu harus di imbangi dalam peningkatan sistim pengelolaan.

“Buatlah menajemen pengelolaan yang baik, yang kredibel, transparan, dan accountable,” pesan Gubernur.

Kehadiaran FF625 supaya betul -betul membawa manfaat bagi masyarakat dan bisa membangun Gedangsari, jangan hanya segelintir orang yang mengambil manfaat.

“Sistem pemasaran wisata di Gunungkidul juga perlu strategi, lebih baik satu persatu, jangan serentak, agar semua benar- benar bisa maksimal” tambahnya.

Menurut Gubernur, persaingan benar- benar akan terasa setelah dibukanya Kulonprogo International Airport di tahun 2019 nanti. Gunungkidul harus mengimbangi dengan selesainya pembangunan JJLS.

“Kita benar- benar harus berkompetisi sehingga Gunungkidul akan tetap menjadi tujuan wisata utama bagi para wisatawan baik lokal maupun internasional,” pungkasnya. (Santi)

Posted from WordPress for Android

Related Post