Hasil Panen Minim, Harga Ketela Terus Naik

34 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Hasil panen ketela pohon yang dialami oleh petani menurun dibandingkan dengan sebelumnya. Hal itu berdampak pada harga jual yang tinggi.

Sebagai salah satu wilayah penghasil ketela pohon terbesar dan bahkan pernah menjadi makanan pokok di Gunungkidul, baru tahun 2018 mengalami kenaikan harga tertinggi dalam sejarah.

Harga tinggi ini karena minimnya produksi dan sebagian warga sudah melakukan pengolahan mandiri menjadi tepung.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnubroto menyampaikan, harga gaplek tahun 2018 mengalami kenaikan tertinggi dalam sejarah. Biasanya tingkat petani hanya laku Rp 500 hingga Rp 2500 per kilogram.

“Saat ini harga Rp 3200 sampai Rp 3500 itu tertinggi yang pernah ada, biasanya gak pernah sampai,” katanya saat dihubungi Gunungkidulpost.com, Senin (1/10/2018).

Dijelaskannya ada beberapa faktor yang menyebabkan harga gaplek mahal. Adapun diantaranya produksi menurun karena faktor rendahnya hujan saat musim tanam 2018. Saat itu, hujan di Gunungkidul sampai bulan April 2018 sehingga umbi belum membesar.

Hal ini menyebabkan turunnya produksi gaplek. Tahun ini diperkirakan mengalami penurunan sebanyak 15 persen dibanding tahun lalu. Pada tahun lalu produksi ubi kayu mencapai 924,751 ton dengan luas panen 49.478 hektare. Sementara prediksi produksi tahun ini hingga Desember hanya 780.307 ton atau mengalami penurunan sekitar 15 persen.

“Musim tanam ketela pada bulan November sampai Desember 2017, setelah itu hujan berhenti bulan April 2018. Praktis kurang air, sehingga umbi kecil,” ucapnya.

Terpisah, seorang pengepul gaplek di Mijahan, Semanu Andi Wijaya, menyampaikan, wilayah penghasil ubi kayu terbesar adalah zona Selatan Gunungkidul. Nantinya gaplek akan dikirim ke Surabaya melalui jalan darat.

“Kalau harga pasar dan di desa-desa Rp 3.200an per kilogram,” jelasnya.

Salah seorang petani ketela, warga Wonosari, Rumini mengatakan, dirinya sengaja tidak menjual gaplek hasil dua petak lahannya. Hal itu lantaran akan dipergunakan untuk dikonsumsi membuat hasil makanan olahan seperti gatot dan tiwul.

“Kemarin sudah ada yang mau beli, tetapi saya memilih untuk disimpan dirumah,” pungkasnya. (G1)

Related Post