Hidup Dalam Keterbatasan, Pasangan Lansia Butuh Uluran Tangan

127 views

Gunungkidulpost.com – Tepus – Ingin hidup bersama hingga maut memisahkan, inilah kata yang terucap dari bibir tua seorang lelaki Sojoyo Teo (90) kepada istrinya Tukinem alias Tukinuk (90) warga Padukuhan Tepus III, Desa Tepus, Kecamatan Tepus.

Dalam keadaan sakit, keduanya tetap menjalani hidup berdua dengan ekonomi yang pas-pasan bahkan nyaris kurang. Bagaimana tidak, untuk memenuhi kebutuhan perut saja, keduanya hanya mengandalkan bantuan dari masyarakat sekitar karena kondisinya yang sudah tua dan memprihatinkan.

Kondisi diperparah saat tubuh keduanya yang mulai renta dan tak lagi mampu menopang tubuhnya. Bahkan hanya sekedar makan, minum, mandi, buang air mereka tidak bisa sendiri terpaksa harus dibantu orang sekitarnya.

Keduanya sungguh sangat memprihatinkan, kedua mata sang suami mengalami kebutaan sementara istri sakit dan mengalami kelumpuhan dan luka pada keningnya. Rumahnya yang mereka tinggali dahulunya hanya terbuat dari bilik bambu dan beralaskan tanah.

Keadaan sedikit nyaman setelah mereka mendapat bantuan dari pihak lain untuk merenovasi rumahnya. Sebenarnya, ada tujuh anak yang terlahir dari buah cinta mereka, namun masing-masing telah hidup berkeluarga dengan kondisi ekonomi yang juga tergolong kurang sehingga mereka tidak mampu memberikan fasilitas lebih untuk kedua orang tuanya.

Berkan uluran tangan warga sekitar, pasangan lansia yang memprihatinkan ini bisa melanjutkan hidup meski sangat jauh dari kata layak.

“Saya yang bantu masak dan saya kasih mereka berdua makan di jam jam makan,” kata Sugiah, tetangga yang sehari-hari mengurus keduanya, Sabtu (07/09/2019).

Selama ini, nenek renta Tukinem memiliki luka yang cukup serius di bagian keningnya. Bahkan luka tersebut membusuk hingga beberapa waktu lalu sempat ada belatung yang bersarang di kepalanya dan barulah luka itu bisa dibersihkan, setelah anak ke empat mereka, Prapto Slamet pulang dari merantau.

Diceritakan Prapto,di masa mudanya Tukinem jualan ayam goreng. Lalu, saat menyiapkan dagangan keningnya terciprat air mendidih. Beberapa kali pengobatan sudah ia lakukan.

Namun tak kunjung sembuh dan akhirnya ada benjolan di kening. Benjolan tersebut kemudian menglupas dan memicu timbulnya luka.

“Saya waktu itu di Kalimantan, tau tau keadaan kening simbok sudah membusuk, namun karena keterbatasan ekonomi saya belum bisa mengobatkan sementara hanya buka tutup perban,” kata Prapto.

Saat ditemui rekan-rekan media, pasangan lansia tersebut sudah sulit untuk diajak berkomunikasi. Keduanya hanya terbaring di atas tempat tidur yang hanya beralaskan tikar seadanya. Sesekali sang suami, Sojoyo mengajak berkomunikasi istrinya.

“Maem yo? Tak cepake yo? (Makan ya, saya siapin ya),” demikinan kata Sojoyo.

Sajoyo yang dalam kondisi buta, hanya bisa meraba raba meja yang tidak jauh dari lincak tempat tidurnya saat berniat untuk menyiapkan makan untuk istrinya.

“Yen iso tak openi ngasi aku mati, (kalau bisa istri saya akan saya jaga hingga saya meninggal),” ujar Sojoyo. (Santi)

Related Post