Ikon Gunungkidul Sering Jadi Tempat Mesum

image

Gunungkidulpost.com – Patuk – Keindahan ikon Gunungkidul yang berada pintu gerbang Patuk tercoreng oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Diduga keberadaan taman di perbatasan tersebut dijadikan aktivitas yang tak patut saat malam hari.

Anggota DPRD Gunungkidul Wahyu Pradana Ade Putra mengungkapkan, dirinya sering mendapat laporan adanya aktivitas yang kurang mengenakkan di kawasan Tugu perbatasan Patuk.

Menurut dia, aktivitas yang dilakukan oleh muda-mudi masuk ke kegiatan negatif dan sangat meresahkan masyarakat. Beberapa di antaranya adalah, jadi tempat mabuk-mabukan hingga aktivitas menjurus ke perilaku mesum.

“Saya sudah dapat laporan itu dari konstituen yang ada di Patuk,” katanya, Jum’at (7/7/2017).

Menurutnya, hal negatif yang dilakukan oleh oknum yang tak bertanggung jawab ini terjadi pada malam hari, tepatnya di atas pukul 23.00 WIB saat kondisi jalan sepi. Ia pun berharap permasalahan tersebut bisa segera ditangani sehingga tidak merusak citra salah satu ikon di Gunungkidul tersebut.

“Sangat disayangkan sekali, karena keberadaan taman malah disalah gunakan oleh oknum yang tak bertanggung jawab” ujarnya.

Ade berharap, Dinas Lingkungan Hidup, selaku pengelola taman  mengambil tindakan tegas dengan melakukan penertiban. Langkah tersebut harus diambil untuk menghilangkan citra buruk keberadaan taman yang menjadi ikon di Gunungkidul ini.

“Jangan terus dibiarkan karena selain meresahkan masyarakat, prilaku negatif ini juga akan merusak citra yang ada di kawasan taman. Untuk itu, kami minta Dinas Lingkungan Hidup segera melakukan penertiban,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul Agus Priyanto mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan terkait dengan aktivitas negatif di kawasan taman di tugu perbatasan Patuk. Bahkan, ia mengaku mendapatkan kiriman gambar tentang prilaku menyimpang yang terjadi di kawasan itu saat malam hari.

“Adanya masalah ini, kami akan melakukan penertiban. Untuk pelaksanaannya akan bekerjasama dengan Satpol PP,” katanya.

Agus menduga, penyalahgunaan di tugu perbatasan tak lepas dari keterbatasan penjaga di kawasan itu. Dia mengungkapkan, di tugu perbatasan petugas keamanan yang jaga hanya dilakukan dua shif, yakni pagi dan sore yang berakhir pada pukul 22.00 WIB.

Adanya permasalahan itu, pihaknya akan mengusulkan penambahan petugas jaga, khususnya pada saat malam hari.

“Aktivitas yang dilakukan di atas pukul 23.00 WIB, sedang petugas jaga kami hanya sampai pukul 22.00 WIB. Jadi untuk mengantisipasi hal tersebut, kami akan mengusulkan tambahan petugas jaga malam,” ujarnya. (Heri)

Posted from WordPress for Android

Related Post