Ini Alasan Jari Kelingking Harus Diclup Tinta Usai Nyoblos

130 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Setelah hari-H pemilu terlewati, biasanya ada satu foto yang mendominasi media sosial: jari kelingking berhias warna ungu. Mulai dari pasangan pejabat yang direkam langsung oleh awak media, hingga orang biasa yang merekam sendiri dan mem-posting-nya di Instagram pribadi. Yang jelas bukan warna kutek, melainkan tinta sebagai bukti bahwa kamu sudah menggunakan hakmu sebagai warga negara dalam pemilu.

Sementara pemilih baru biasanya bangga setengah mati dengan celupan tinta di jari ini, pemilih lama mungkin kesal karena tintanya tidak hilang-hilang. Tapi buat kamu yang belum tahu kenapa wajib mencelupkan jari ke tinta setelah nyoblos di TPS, ini alasannya.

1. Bukan sekadar untuk gegayaan di media sosial, celup jari ke tinta ternyata fungsinya untuk keamanan

Jari yang berhias tinta ungu itu bukan sekadar bukti yang bisa kamu banggakan kalau kamu berpartisipasi dalam demokrasi, melainkan sebuah sistem pengaman untuk mencegahdouble voting ataupun hal-hal yang mengarah ke kecurangan pemilu. Prinsipnya, satu suara untuk satu identitas.

Penandaan dengan tinta bertujuan untuk mencegah kemungkinan orang yang sudah nyoblos, nyoblos lagi memanfaatkan id atau undangan orang lain. Tinta ini tidak bisa hilang dalam jangka waktu tertentu. Ada yang 1 hari, ada juga yang 3 hari. Jika kamu mencoba nyoblos dua kali, pasti ketahuan petugas TPS karena jejak warna tinta masih tertinggal di jari.

2. Berawal dari India, metode celup tinta ini diadoptasi oleh berbagai negara di dunia

Ternyata tidak. Prosedur celup tinta sebagai bukti partisipasi pemilu ini juga digunakan oleh 44 negara lain di dunia. Di wilayah Asia Tenggara, ada Indonesia, Malaysia dan Myanmar yang menerapkannya. Metode ini awalnya dipakai di India. Pada pemilu demokratis pertamanya, India menghadapi permasalahan serius tentang pencurian identitas. Untuk mencegah satu orang memilih dua kali, mulai pada pemilu ketiga India di tahun 1962 diterapkan celup tinta di jari. Tinta yang digunakan eksklusif dari perusahaan Mysore Paints and Varnishes Ltd. Kedua perusahaan ini juga mengekspor tinta pemilu ke berbagai negara, termasuk Britania Raya dan Malaysia, dan Denmark.

3. Di Indonesia, celup tinta baru digunakan setelah pemilu 1999. Reformasi membawa banyak perubahan, termasuk tata cara pemilihan

Pemilu pertama di Indonesia adalah tahun 1955. Metodenya kurang lebih sama seperti saat ini. Rakyat datang ke TPS, kemudian mencoblos surat suara di bilik. Namun prosedur celup tinta baru dilakukan selepas pemilu 1995. Tidak ada sumber yang jelas mengapa metode ini tiba-tiba digunakan setelah masa reformasi. Mungkin setelah terbebas dari orde baru, di mana pemilu hanya sebatas formalitas, seluruh lapisan masyarakat benar-benar ingin merasakan sensasi demokrasi yang sesungguhnya. Apalagi jumlah penduduk yang bisa memilih juga semakin banyak. Sehingga diperlukan cara-cara baru untuk membuat pemilu berjalan sebersih mungkin.

4. Tak bisa sembarangan, sesederhana jenis tinta pun ada ketentuannya.

Menilik fungsinya yang luar biasa penting, penggunaan tinta pemilu ini juga tidak bisa sembarangan. Ada prosedur ketat yang harus diikuti. Pertama, soal jenis tinta yang digunakan haruslah tinta yang terbuat dari ‘Silver Nitrate’. Bahan kimia inilah yang membuat tinta bisa bertahan hingga minimal 1 hari. Kedua, botol tinta harus dikocok dulu sebelum dipakai. Ketiga, jari harus dicelupkan hingga mengenai kuku untuk membentuk sidik jari yang bisa awet sampai tiga hari. Di Indonesia, tinta pemilu juga harus mendapat sertifikasi halal dari MUI agar tidak mengganggu syarat ibadah umat Islam. (Falentina)

Related Post