Ini Alasanya Badongan Jadi Desa Penari Di Gunungkidul

99 views

Gunungkidulpost.com – Semin – Dusun Badongan, Desa Karangsari, Semin menyimpan misteri dibalik para penari Tayub. Pasalnya, dusun yang terletak disebelah timur dari arah kota Wonosari memiliki para penari Tayub yang sukses mengantarkanya hingga keberbagai daerah.

Tayub yang digagas mulai tahun 1968 inilah terus dilestarikan oleh warga Badongan yang sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani. Berbekal tiga penari tayub, sinden, dan puluhan wiyogo, kelompok Tayub tersebut mempu menghibur para penonton diberbagai daerah.

Jauh dari kesan mistis, Dusun Badongan justru memberikan sambutan hangat saat Gunungkidulpost.com berkunjung ke dusun tersebut. Bahkan ketika mencari mencari alamat rumah sesepuh penari disana, ada warga yang sukarela mengantarkan hingga didepan teras rumah Mbah Gunem (penari Tayub).

Mbah Gunem (64) salah seorang penari Tayub mengatakan, perjalanan hidupnya menjadi seorang penari Tayub berawal saat ia berumur 13 tahun.
Menurut dia, sempat ada banyak perempuan yang berprofesi sebagai penari Tayub di kampungnya. Sekitar tahun 1970-1990an jumlah penari bahkan mencapai puluhan orang.

“Penari Tayub dulu banyak, dan butuh keluesan tersendiri karena berbeda dengan penari lainnya,” kata Mbah Gunem.

Seiring waktu, ia semakin mahir menari Tayub bersama dengan teman satu padukuhan. Ia pun menerima banyak tanggapan, dan harus rela memenuhi undangan hingga kedaerah lain.

“Kalau bulan Besar, satu bukan full banyak tanggapan. Namun dibulan-bulan lainnya paling satu bulan 5 kali,” ucap Mbah Gunem.

Namun saat ini mencari 5 penari dikampungnya sangat kesulitan lantaran generasi penerusnya tidak ada. Ia hanya bisa berharap, kesenian Tayub tatap terus bertahan ditengah gempuran era digital saat ini.

“Kami hanya berharap Tayub tetap eksist sehingga kesenian ini ada regenerasi lagi,” imbuhnya. (Bayu)

Related Post