Ini Dia Kisah Arkeolog Asal Gunungkidul Yang Terkenal Di Tingkat Dunia

image

Arkeolog Putra Gunungkidul, Thomas Sutikna. (Foto: Istimewa)

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Sejak 2014 silam Lembaga Thomson Reuters menobatkan Thomas Sutikna dan tiga arkeolog Indonesia lain sebagai The World’s Most Influential Scientific Minds.

Temuan Homo Floresiensis atau Hobbit dari Flores, mengantarkan mereka ke tempat paling terhormat di dunia arkeologi internasional.

Tak banyak yang tahu, Thomas Sutikna ternyata warga asli dari Kota Wonosari, Gunungkidul.

Sejak SMP Thomas ingin mendalami sejarah kuno. Mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru, bertubuh tegap, bercelana pendek, Thomas Sutikna menampilkan sosok pekerja lapangan yang tangguh.

Penampilan arkeolog bertopi ini sangat kuat digambarkan pada sosok Indiana Jones dalam film petualangan memburu harta karun kuno berjudul sama.

Lalu siapakah sejatinya Thomas Sutikna itu?

“Saya lahir dan besar di Baleharjo, belakang gereja Katholik. SD Kanisus 2 Baleharjo, dan SMP Kanisius I Wonosari. Meneruskan ke SMA 1 Wonosari, sebelum melanjutkan kuliah di UNS Solo,” kata Thomas Sutikna di Gua Braholo beberapa waktu lalu.

Menurutnya, UNS satu-satunya tujuan utamanya dalam belajar sejarah kuno. Saya mendaftar ke Fakultas Sastra dan Budaya. Itu tahun 1982 atau 1983.

Thomas Sutikna membayangkan karena Solo dekat dengan Sangiran, yang begitu identik dengan sejarah purbakala, maka ia memantapkan diri memilih studi di UNS.

“Pikir saya kan dekat dengan Sangiran jadi UNS sebagai tujuan saya untuk kuliah,” paparnya.

Ternyata setelah masuk ke kampus, mimpinya tak sesederhana yang di bayangkan. Ilmu sejarah begitu kompleks, terkait dengan aneka disiplin ilmu lain. Tapi hal itu tak mengendorkan semangat Thomas.

Ia menyerap ilmu sangat berharga dari dosennya (alm) Drs Petrus Suwarjadi. Ilmu Sejarah Kuno yang diajarkan menjadi bekal penting untuk bidang ilmu yang ia tekuni.

Setelah lulus dari UNS pada 1990, keinginan Thomas untuk menekuni sejarah kuno terus berkobar.
Ia berjuang ke Jakarta, dan dikenalkan seorang temannya pada Prof Raden Pandji (RP) Sudjono. Ini bukan tokoh sembarangan. Sudjono dianggap pionir dunia arkeologi Indonesia.

“Saya nyantrik (belajar) langsung ke Pak RP Sudjono. Beliau orang hebat, dan saya benar-benar belajar banyak dari beliau,” ungkap Thomas Sutikna.

Dari sinilah mata Thomas terbuka, betapa luas dan menantangnya ilmu pengetahuan tentang arkeologi di Indonesia.

“Meskipun orangnya keras dan tertib disiplin, beliau konsekuen dengan yang dibimbingnya. Sekali lagi dari beliau, saya bisa paham problem-problem arkeologi di Indonesia,” ujarnya.

Sebagai putra daerah Gunungkidul, Thomas merasa selama ini justru jauh dari tanah yang sesungguhnya menyimpan sejarah peradaban hebat pada masa lalu.

“Saya selama ini lebih banyak meneliti di daerah lain. Kini saatnya saya mencoba berkontribusi di Braholo,” kata pria sederhana yang sejak kecil ditempa kerasnya hidup di tanah kelahirannya.

Bagi Thomas, situs Gua Braholo dan gua-gua hunian di Pacitan hingga Tulungagung menyimpan rahasia dan misteri besar kehidupan awal manusia modern (Homo Sapiens) setibanya mereka di Jawa.

“Penelitian belum mencapai lapisan terbawah (steril), dan dilihat dari penelitian terdahulu, ini tergolong sangat tua hingga usia 34.000 tahun. Nah, di bawah lapisan itu ada apa, inilah misteri besar yang harus diungkap,” pungkasnya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post