Kasus Bunuh Diri Masih Tinggi, Pemkab Belum Temukan Solusi

image

Gunungkidulpost.com – Wonosari -Kasus Bunuh diri dengan cara gantung diri di Kabupaten Gunungkidul dari tahun ke tahun masih menjadi permasalahan yang sampai saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul sendiri belum mendapatkan solusi terbaik dalam upaya pencegahan kasus ini.

Di Kabupaten Gunungkidul kasus bunuh diri dengan cara gantung diri sejak tahun 2001 sampai 2015 terdapat 459 kasus dan rata – rata setiap tahun  28 sampai 29 kasus. Hal ini di sampaikan Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi saat menggelar rapat dengan Forum Group Diskusi (FGD) Pencegahan dan Penanggulangan Kasus Bunuh Diri Kabupaten Gunungkidul 2017 Jumat, (04/08/2017) di Ruang Rapat 1 Setda Gunungkidul.

” Di tahun 2015 ada sebanyak 33 kasus, 2016 sebanyak 33 kasus dan pada 2017 sampai bulan Agustus 2017 ini ada sebanyak 23 kasus,” urai Immawan.

Menurut Immawan, pelaku bunuh diri sesungguhnya cuma membutuhkan komunikasi dan diskusi sehingga semua permasalahan diharapkan dapat diatasi. Bunuh diri memang tidak bisa di cegah, untuk itu perlu program dan kegiatan dengan muara untuk kesejahteraan masyarakat, yang meliputi persoalan yang selama ini tidak keliatan namun pada kenyatanya ada bersama dengan masyarakat.

“Bisa di mulai dari Puskesmas dengan melakukan deteksi dini kepada pengunjung Puskesmas, dan perlu adanya tenaga yang mendeteksi siapa yang terindikasi depresi atau stres,” jelas Immawan.

Selain itu, perlu dilakukan pendekatan kultural, misal dengan seni wayang. Dari situ dapat disampaikan kepada Ki Dalang melalui seni humornya sehingga pesan moral dan penyuluhan sampai pada masyarakat.

Lebih lanjut Immawan menuturkan, perlu adanya pendekatan melalui semua pintu, baik melalui pendekatan agama, budaya dan lainnya agar mampu mencegat tindak bunuh diri.

“Perlu juga pendekatan melalui pendekatan edukatif, melalui pendidikan formal, informal maupun non formal,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Diana Setiawati P, M.Hsc.Psy, Dosen Psykologi UGM menyampaikan bahwa orang sehat jiwa yang dalam sehari harinya produktif, sampai saat ini masih banyak yang belum mengenali depresi pada dirinya sendiri.

Sementara itu, pada kenyataan di lapangan, pelaku bunuh diri sebenarnya menyadari sesuatu sebelum kejadian bunuh diri itu terjadi. 

“Namun mereka tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana, sehingga perlu ada peringatan dini tanda bunuh diri,” Jelas Diana.

Menurut Diana, orang melakukan candaan tentang bunuh diri agar diwaspadai dan ditanggapi serius, karena ide dalam candaan itu akan menjadi kenyataan apabila mendapat kesempatan, sehingga perlu diawasi secara melekat.

“Bunuh diri identik dengan sakit jiwa, penyebabnya diantaranya depresi, sedih sampai berlarut larut, penggunaan NAPZA, putus asa, kekerasan dalam rumah tangga, hingga cyber bullying,” papar Diana.

Diana melanjutkan, faktor resiko bisa terjadi dari keluarga, misalnya konflik dalam keluarga, dari diri pribadi yaitu percobaan bunuh diri, dan bisa juga dari lingkungan sosial, bisa karena bullying.

“Kita dapat melakukan strategi pencegahan dengan memupuk rasa saling peduli, hindari berkata dan perkataan yang menyakitkan hati seseorang,” pungkas Diana. (Santi)

Posted from WordPress for Android

Related Post