Kasus kekerasan Terhadap Perempuan Tinggi, Mengapa??

289 views
image

Ilustrasi. Net

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Kasus kekerasan terhadap perempuan di Provinsi DIY ternyata masih tinggi. Tahun ini jumlahnya mencapai angka 237 kasus, dan 174 kasus diantaranya atau 73 persen dialami oleh para istri.

Informasi yang dihimpun dari LSM Rifka Annisa mencatat total kasus kekerasan terhadap istri tersebut ditangani oleh Divisi Pendampingan Rifka Annisa sepanjang Januari-Oktober 2017.

“Dari data penelitian kami, perempuan yang mengalami kekerasan dalam pacaran yang tidak ditangani dan berlanjut ke hubungan pernikahan, sebagian besar mengalami kekerasan dalam rumah tangga,” kata Bagian Humas Rifka Annisa Yogjakarta, Defirentia One, Jumat (27/10/2017).

Lalu bagaimana menyikapi, kata dia, dalam pacaran yang penting masing-masing harus membuat komitmen bersama. Ketika pacar sudah melakukan kekerasan, merendahkan atau hubungan kalian sudah tidak sehat lagi, putus atau mengakhiri hubungan bisa menjadi solusi.

“Dan, ketika sudah ada kejadian pacarmu pernah melakukan kekerasan selama pacaran, maka perlu untuk memikirkan kembali kalau mau berlanjut ke jenjang pernikahan. Lebih baik putus daripada bertahan dalam sebuah hubungan yang penuh kekerasan,” ucapnya.

Menurutnya, penting juga membuat kesepakatan dan komitmen sejak awal. Misalkan, jika di kemudian hari ada salah satu pihak yang melanggar komitmen, kesepakatan atau membuat pasangan merasa tersakiti, maka saat itu juga hubungan mereka berakhir.

“Tapi masalahnya kan tidak banyak pasangan yang terbiasa membuat atau membicarakan komitmen dan kesepakatan seperti itu,” cetusnya.

Lebih jauh dikatakan, tidak semua kasus kekerasan terhadap istri berlanjut ke proses hukum atau perceraian, bahkan sebagian besar klien memutuskan untuk kembali (rujuk) dengan pasangan atau mempertahankan rumah tangga.

Beberapa pertimbangan yang menjadi alasan klien untuk tidak berproses hukum atau bercerai adalah anak, keluarga besar maupun alasan bahwa mereka hanya ingin mengakhiri kekerasan yang terjadi, bukan mengakhiri hubungan rumah tangga. Sehingga, beberapa klien juga mengakses layanan konseling berpasangan (couple counseling).

“Konseling tidak hanya bagi perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga tetapi juga konseling terhadap laki-laki pasangannya,” pungkasnya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post