Kekeringan Meluas, Pohon Sampai Hewan Ternak Ludes Demi Air Bersih

140 views

Gunungkidulpost.com – Girisubo – Kemarau panjang yang terjadi di kawasan pesisir Kabupaten Gunungkidul, menyebabkan warga harus rela menjual barang berharganya untuk membeli air bersih.

Informasi yang dihimpun, warga harus rela menjual hewan ternak hingga pohon yang ia miliki demi membeli air bersih.

Salah seorang warga Desa Tileng, Gandi Suwarno mengatakan, dirinya sudah membeli puluhan tangki air bersih sejak bulan Juli 2018 lalu. Hal ini lantaran mereka keluarga besar dan juga memelihara lima ekor sapi indukan.

“Total ada 20-an tangki, mungkin lebih. Harganya per tangki Rp 110.000,” katanya kepada wartawan, Minggu (28/10/2018).

Meski berat, dirinya tak bisa berbuat banyak karena air merupakan kebutuhan pokok.

“Ya mau bagaimana, pohon jati sudah (dijual), kambing (juga). Pokoknya apa pun, kalau pas tidak punya uang untuk beli air ya dijual. Besuk pas panen beli lagi ndak apa-apa,” ujarnya.

Miyarno mengakui hal yang sama. Namun dia sedikit beruntung karena rumahnya tak jauh dari bak penampungan yang biasanya bantuan air bersih ditaruh disana untuk dibagikan kepada masyarakat.

“Lumayan terbantu saat ada bantuan, saya sudah membeli delapan tangki air. Sisanya mengandalkan bantuan air dari pemerintah dan swasta. Jika enggak ada bantuan tidak tahu sudah habis berapa tangki,” ucap Miyarno.

Terpisah Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki menyampaikan, ada lima kecamatan yang merupakan wilayah rawan kekeringan, yakni Kecamatan Semanu (Desa Dadapayu), Kecamatan Ngawen (Desa Jurangjero, Sambirejo, Besi), Kecamatan Gedangsari (Desa Watugajah, Mertelu, dan Hargomulyo), Kecamatan Girisubo (Desa Songbanyu, Tileng, Karangawen, Jepitu, dan Nglindur), Kecamatan Rongkop (Desa Melikan).

“Kelima kecamatan ini masuk zona merah, artinya paling membutuhkan air bersih,” ungkapnya.

Edy mengatakan, wilayah yang mengalami kesulitan air bersih ada 77 desa yang tersebar di 15 kecamatan. Jumlah warga yang terdampak juga terus mengalami penambahan, yaitu 38.937 KK atau 132.491 jiwa.

“Lima kecamatan yang mengalami kelangkaan yakni Girisubo, Rongkop, Ngawen, Gedangsari, dan Semanu. Lima kecamatan ini masuk zona merah artinya sangat membutuhkan bantuan air bersih,” ujarnya.

Menurut dia, kelangkaan ini dikarenakan tidak adanya sumber air, dan sudah berkurangnya sumber air akibat kemarau panjang.

Camat Girisubo, Agus Sriyanto, mengatakan, di wilayahnya ada 8 desa yang semuanya mengalami kekeringan cukup parah. Sebab, selama 9 bulan terakhir tidak ada hujan deras. Wilayah Girisubo memang terletak di wilayah yang termasuk yang pertama mengalami kemarau panjang.

“Total ada 82 dusun di wilayah kami, yang kesulitan air ada 62 dusun, yang tidak mengalami kekeringan karena sudah ada sambungan PDAM,” ucapnya.

Wilayah Girisubo, lanjut Agus, memang tidak memiliki banyak sumber air yang bisa diambil, karena memang wilayah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Wonogiri ini berada di perbukitan cadas.

“Ada tiga sumber mata air, tetapi memang kami kesulitan untuk dikelola bersama PDAM. Satu yang besar di Pule Jajar, lokasinya berbukit dan sulit diakses,” pungkas Agus. (Bayu)

Related Post