Kisah Supono Menekuni Mainan Tradisional Demi Mengais Rejeki

82 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Menjamurnya mainan modern saat ini tidak menyurutkan semangat Supono (55), warga Ngasem Desa Karangsari, Kecamatan Semin untuk menjajakan mainan tempo dulu.

Bapak empat anak ini memilih keluar dari buruh pabrik di Jakarta dan pulang kampung untuk menekuni usaha tersebut.

Lelaki paruh baya tersebut setiap harinya berkeliling menjajakan mainan tradisional dari bahan baku bambu. Sudah dari tahun 1999 silam atau sekitar 20 tahun dia terbiasa berjalan untuk menjual mainan yang diproduksinya sendiri.

Mainan dari bambu yang sangat sederhana dan jauh dari kata mewah, saat ini harus bersaing dengan mainan modern dan canggih dan ternyata masih diminati oleh anak-anak. Mainan tersebut seperti gangsing, seruling, suara burung dan etek-etek.

Supono menuturkan, dirinya masih bertahan menekuni usahanya memproduksi dan menjajakan mainan tersebut, karena ingin mempertahankan mainan tradisional agar anak-anak saat ini dapat lebih mengenal mainan tempo dulu dan bisa memainkannya.

“Agar anak-anak jaman sekarang juga tau mainan jaman dulu seperti apa, walaupun sekarang banyak mainan yang lebih modern tapi saya masih bertahan untuk melestarikan mainan tempo dulu ini.” katanya saat ditemui Gunungkidulpost.com, Kamis (12/9/2019).

Dia memilih untuk memproduksi dan memasarkan sendiri mainan tersebut karena dirasa memiliki keuntungan yang lebih dari pada menyetorkan ke suatu tempat.

“Saya memproduksi sendiri mainan ini lalu saya pasarkan sendiri juga dengan berkeliling jalan kaki. Biasanya berjualan di Jogja di hotel, tempat wisata, sekolah dan ini baru keliling di Wonosari. Biasanya kalau pas jualan di Jogja tidurnya di masjid, dan pulangnya seminggu sekali.” ujarnya.

Untuk bahan baku dirinya tidak kesulitan mendapatkannya, biasanya bambu didapatnya dengan memesannya dari Solo dengan harga Rp 40 ribu/ikatnya.

“Saya pesan bambunya dari Solo dengan memesan terus diantar sampai ke rumah. Kalau dirumah juga menanam pohon bambu tapi setahun sekali baru bisa ditebang.” terangnya.

Supono mengaku setiap minggunya memperoleh pendapatan kotor rata-rata sekitar Rp 1,5 juta – Rp 2 juta, dengan modal sekitar Rp 500 ribu.

“Ya pendapatan setiap minggunya tidak pasti, yang penting bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk menyekolahkan anak. Seberapa pun kita syukuri karena rejeki sudah ada yang atur.” ungkapnya. (Falentina)

Related Post