Kisah Tukang Termos Ini Berani Menantang Zaman

50 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Siang hari di sela terik panas matahari di Jalan KH.Agus Salim Kepek, Wonosari, Gunungkidul terlihat laki-laki lanjut usia yang sedang memikul termos bekas sebagai bukti pelayanan jasa reparasi.

Sesekali ia berhenti diemperan toko untuk istirahat sambil mengatur nafasnya untuk keliling kampung. Saat dihampiri laki-laki usia lanjut ini menjelaskan bahwa ia seorang tukang service termos.

Laki- laki itu bernama mbah Kismo yang berasal dari desa Rejosari kecamatan Semin.

Mbah Kismo menceritakan kisahnya, bahwa dirinya belum mendapat satupun pelanggan dari sejak pagi.

”Ya Tuhan susah yah nyari orang yang termosnya rusak ,sekarang orang pada make dispenser, andaikan termosnya rusak juga paling mereka lebih milih beli baru, mungkin besok rejeki saya Mas,” keluhnya seraya berdoa.

Mbah Kismo mengaku telah berkerja menjadi penyervice termos sejak 1980 silam. Jika dilihat dari perkerjaannya, tidak banyak orang yang mengatahui bahwa ada orang seperti Mbah Kismo yang kesehariannya berkerja sebagai penyervice termos.

Termos yang biasa digunakan untuk menyimpan air panas, kini perannya hampir digantikan oleh dispenser.

Hal itu pun dirasakan oleh Mbah Kismo. Ia menjelaskan bahwa mendapat satu pelanggan saja sudah sangat beruntung, karena kerap kali ia tidak mendapat hasil setelah seharian berkeliling kampung dari gang ke gang sampai ke kota.

Mbah Kismo menceritakan bahwa dahulu masih cukup banyak orang yang menyervice termos. Ia mampu mendapatkan tiga atau empat pelanggan dalam sehari.

Menurutnya Termos sama seperti manusia yang harus diperlakukan secara halus, jika tidak ingin mudah rusak.

“Banyak yang marah-marah ke saya karena airnya gak panas saya dikatain tukang tipu, tapi saya jelasin pelan-pelan ke mereka termos itu harus diperlakukan halus karena dia dalamnya kaca, sama kaya hati manusia harus diperlakukan halus juga supaya gak rusak pertemanan kita, ” jelasnya seraya tertawa.

Namun mbah Kismo punya pandangan lain mengenai perkerjaannya. Menurutnya berkerja sebagai penyervice termos, bukanlah perkejaan hina. Ia meyakini masih ada termos-termos yang rusak di dapur-dapur rumah masyarkat kita. Walaupun ia akui perubahan sedang terjadi.

“Jadi tukang service termos gak hinakan yaa mas, toh saya yakin Tuhan maha adil, pasti ada orang yang termosnya minta di service sama saya,” ucapnya.

Dalam menyervice Mbah Kismo menaruh harga Rp 40.000 untuk ganti kaca dan 20.000 untuk kulit dalam dan kulit luar. Sebenarnya harga ini tidak berbeda jauh dengan harga termos baru.

Namun unggul dalam hal kualitas barang, garansi dan jaminan, saat termos pelanggan di service ia memberi termos pengganti agar digunakan pelanggan.

“Yah ini perkejaan langka sekarang, tapi dengan perkejaan langka hasil seberapa tetap saya syukuri,” pungkasnya. (Kusuma)

Related Post