Komunitas ABDW Ungkap Kondisi Gunungkidul

55 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Pameran seni rupa dengan mengusung tema Portal diselenggarakan oleh sejumlah seniman dari komunitas ABDW di gedung bekas Pengadilan agama, Komplek Pemkab Gunungkidul sejak Sabtu, (14/7) lalu.

Ketua Pameran Portal, Ismu Ismoyo mengatakan pameran ini merupakan pameran perdana bersama-sama komunitas ABDW. Pemeran digelar untuk menceritakan kondisi Gunungkidul.

“Kami ingin berbicara tentang Gunungkidul, beberapa kata yang kami pilih akhirnya menyinggung kata Portal. Kata teman-teman identik dengan Gunungkidul sekarang, pembangunan dan lain-lain,” ujarnya Minggu (15/7).

Setelah itu, Ismu bersama rekan-rekannya berproses untuk mencari persamaan kata lain, seperti ketemu pintu, gapura. Menurut Ismu, dengan kata yang familiar tersebut pameris dapat membaca masalah Gunungkidul, lalu dibuat pada karya masing-masing.

Terpisah, kurator pameran Portal, Hasta Indriyana mengatakan pameran yang digarap komunitas ABDW menarik.

“Gagasan dan isu cukup luas untuk dieksplorasi, karena secara harfiah portal bisa pula berarti tempat penjualan, palang yang dipasang di ujung gang untuk menghalangi kendaraan masuk, situs web yang menyediakan tautan/arus informasi. Portal dalam hal ini adalah tanda lalu-lintas sekaligus lalu-lintas itu sendiri, yaitu lalu-lintas keberbagaian,” ujarnya.

Pemeran yang akan berlangsung hingga satu bulan ini rencananya juga akan diisi dengan berbagai workshop dan hiburan. Pameran ini juga diharapkan sebagai tempat komunikasi yang baik bagi para pengunjung.

Ia mengatakan bagi pekerja kreatif yang tergabung dalam pameran ini merupakan tempat mampir lahir, ruang kreatif tempat singgah dan bersinggungan dengan masyarakat beserta permasalahannya.

Gunungkidul adalah sebuah ruang luas yang “portalnya” ada di mana-mana. Ia bisa dimasuki lewat pintu yang bermacam-macam, mulai dari mitologi, fenomena pulung gantung, sejarah, transportasi, pariwisata, sampai tema kekinian. Isu-isu besar atau yang remeh-temeh akan selalu menarik diulas dan disimak.

“Muara dari garapan yang diangkat adalah perubahan sosial, bahwa ada ketimpangan dan keberpihakan adalah tugas mereka mentransformasikannya menjadi wujud seni rupa,” tutupnya. (Santi)

Related Post