Lebaran, Omzet Tukang Tikar Raup Jutaan Rupiah

image

Omzet Persewaan Tikar Selama Libur Lebaran Meningkat. (Foto: Bayu)

Gunungkidulpost.com – Girisubo – Selama tujuh hari Lebaran, mulai Senin (26/6) hingga Minggu (2/7), pengunjung yang datang ke Pantai Wediombo, Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo mencapai ribuan orang.

Menurut beberapa pengusaha makanan di Pantai Wediombo, rata-rata pengunjung setiap harinya mencapai lebih dari tiga ribu pengunjung.

“Pengunjung cukup membludak, tidak kalah dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Yang paling banyak adalah hari Rabu,” ujar salah satu pedagang, Budiyono saat dikonfirmasi Gunungkidulpost.com, Minggu (2/7/2017).

Membludaknya jumlah pengunjung di Pantai Pandan dan Pantai Kalangan, menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang, tukang parkir dan pengusaha rental atau penyewaan tikar. Karena banyaknya pengunjung membuat dagangan atau usaha jasa yang mereka tawarkan, laku keras.

Para pengusaha penyewaan tikar yang dikonfirmasi Gunungkidulpost.com di objek wisata andalan Desa Jepitu itu mengaku bahwa selama tujuh hari Lebaran, omzet mereka mencapai jutaan rupiah, tergantung banyaknya jumlah tikar yang mereka miliki.

Sewa tikar dan payung kalau biasanya  Rp 10.000, selama Lebaran naik 1 kali lipat menjadi Rp 20.000.

“Sangkin lakunya, tikar kami tak pernah ada yang kosong, bahkan banyak pengunjung yang tidak dapat tikar. Rata-rata setiap tikar saya berganti pengunjung minimal 5 kali dalam sehari, makanya omzet saya setiap hari minimal Rp 1 juta lebih,” ujarnya Yudi.

Yudi, salah seorang pengusaha rental tikar di Pantai Wediombo yang mengaku memiliki 20 lembar tersebut mengaku omzet yang diperolehnya saat ini selain akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, juga akan dijadikan modal untuk menambah tikar miliknya saat ini.

Hal senada juga disampaikan beberapa pengusaha penyewaan tikar Slamet menurutnya jumlah pengunjung yang cukup membludak pada Lebaran kali ini telah menimbulkan keuntungan tersendiri bagi kami. Yang mana, omzet penyewaan tikar mereka naik hingga 4 kali lipat dari hari-hari biasa.

“Kalaupun bawa, mereka tidak memiliki tenda sebagai peneduh, makanya mereka terpaksa menyewa tikar. Rata-rata omzet tikar kami mencapai Rp 1 Juta lebih,” bebernya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post