Menelusuri Sejarah Bengawan Solo

image

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Menulusuri sejarah di kawasan selatan Yogyakarta seolah tak ada habisnya. Salah satu peninggalan purbakala yang masih bisa dinikmati ialah Bengawan Solo Purba. 

Sungai terpanjang di Jawa ini saat ini berhulu di Wonogiri dan bermuara di Gresik Surabaya. Jarang masyarakat yang mengetahui jika pada masa purba jutaan tahun lalu, bengawan solo purba bermuara ke pantai Selatan Gunungkidul, yakni pantai Sadeng, Kecamatan Girisubo, Gunungkidul.

Jejak Bengawan Solo Purba adalah jajaran perbukitan karst yang kini masuk sebagai Geopark Gunung Sewu Network oleh UNESCO pada tahun 2015 lalu di konfrensi Asia Pasific Global Network di Sanin, Kaigan, Jepang. 

Dari pantauan akhir pekan lalu, lembah sungai bengawan solo purba yang tepat berada pinggir jalan menuju pantai Sadeng tampak asri dengan didasarnya terdapat tanaman perkembunan warga. 

DInas Pariwisata Gunungkidul berencana membuat lokasi dijadikan obyek wisata minat khusus bidang pendidikan. Sebab, disekitar wilayah Kecamatan Girisubo dan Rongkop banyak lokasi yang bisa dijadikan penelitian ataupun belajar sejarah mengenai kehidupan purbakala.

“Untuk aliran Bengawan Solo Purba, yang bermuara di Pantai Sadeng, tengah kita upayakan untuk menjadi wisata edukasi,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Hary Sukmono Selasa (23/5/2017).

Salah satunya yang masih bisa dilihat ialah kawasan gunungsewu, yang membentang dari Kabupaten Gunungkidul, DIY; Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah; sampai Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pengangkatan ini mengakibatkan berubahnya aliran Bengawan solo Purba, dan menyisakan bekas aliran sepanjang 30 km, dan membentuk cekungan di beberapa titik.

“Disana bisa digunakan penelitian, tidak hanya di Bengawan solo purba, tak jauh dari lokasi juga ada goa Braholo yang dihuni manusia purba. Sangat menarik jika ingin belajar mengenai kehidupan pra sejarah,”ujarnya.

Menurut Hary saat ini di lokasi sudah ada papan informasi mengenai sejarah dan itu bisa digunakan untuk awal informasi. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak desa untuk pengembangan dan menjaga ekosistem disana agar tidak rusak,” imbuh dia. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post