Menengok Konsep Wisata Tradisional Wulenpari

108 views

Gunungkidulpost.com – Patuk – Wisata alam yang banyak dikembangkan pada saat ini, khususnya di kabupaten Gunungkidul mulai menjamur.

Daerah tersebut tak harus memiliki potensi keindahan alam yang banyak. Namun sport selfie menarik akan benyak diburu pengunjung.

Seperti halnya destinasi wisata alam dan budaya, Wulenpari, yang berada di Dusun Jelok, Desa Beji, Patuk.

Dengan menonjolkan potensi alam ditepian Sungai Oya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk mengisi moment liburan.

Selain pemandangan alam yang masih asri serta sejuknya udara terbebas dari polusi dan bisingnya hiruk pikuk perkotaan menjadi tempat yang sangat tepat untuk memanjakan pikiran.

Apalagi menonjolnya bangunan khas jawa dengan pernak pernik hiasan bernuansakan jawa pula, membuat kita betah untuk berlama-lama ditempat tersebut.

Selain menyediakan hidangan kuliner tradisional disini juga dapat bermain perahu getek dan perahu dayung di bantaran sungai oya.

Selain itu, dimomen tertent Wulenpari pun menyuguhkan berbagai tradisi kesenian yang melibatkan masyarakat setempat seperti pentas tari, gamelan, ledek, hingga pertunjukan seni lainnya.

Salah satu wisatawan asal Bantul, Bagus mengatakan dirinya sangat kagum dibalik tanah tandus, ternyata ada pemandangan alam lain yang sangat indah untuk memanjakan para wisatawan.

“Setelah berjalan dari tempat parkir cukup jauh, ternyata sampai disini tidak mengecewakan. Betul-betul suatu tempat yang dapat membuat kita fres kembali.” ungkap Bagus kepada Gunungkidulpost.com.

Menurutnya potensi destinasi wisata ditempat lain harus terus digali, karena di Gunungkidul banyak tempat yang dapat dijadikan destinasi wisata alam.

“Gunungkidul mempunyai banyak wilayah yang masih alami, semua bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata alam seperti di Wulenpari ini,” ungkapnya.

Melongok ke dalam, pengunjung akan mendapati beberapa bangunan dengan konsep tradisional yang di dalamnya terdapat gamelan dan beberapa benda jaman dahulu.

Selain itu terdapat pula, rumah makan yang menyajikan makanan tradisional seperti sayur lombok (cabai) hijau, oseng-oseng dan aneka minuman seperti wedang rempah serta kelapa muda.

Salah seorang penggagas Wulenpari, Aminudin Azis mengatakan, bahwa Wulenpari sendiri baru memasuki usia 1 tahun. Mengingat Wulenpari sendiri baru dibangun pada bulan Desember tahun 2017 dan dibuka untuk umum pada bulan Juni tahun 2018 lalu.

“Jadi setelah badai cempaka itu kan bantaran Sungai Oya rusak, terus kita bersama-sama dengan warga berniat untuk memperbaikinya. Nah, karena lokasinya ada di pinggir sungai munculah ide untuk membuat Mulenpari,” jelasnya.

Lebih lanjut, untuk nama Wulenpari sendiri diambil dari bahasa Jawa yang artinya untaian padi. Terlebih, dalam falsafah Jawa untaian padi kerap ditaruh di rumah guna menandakan kemakmuran atau kesejahteraan.

Sehingga nama tersebut akhirnya dipilih dengan harapan keberadaan Wulenpari dapat mensejahterakan masyarakat di Desa Beji pada khususnya.

“Seperti jembatan gantung itu sengaja dibikin untuk akses masyarakat biar bisa mudah ke lahannya untuk bertani. Jadi keberadaan Wulenpari ini ingin mensejahterakan masyarakat sekitar, untuk pengelolaannya juga kita libatkan seluruh masyarakat Desa Beji,” ungkapnya.

Sambung Aziz, Wulenpari sendiri berdiri di atas tanah dengan luas sekitar 1 hektare yang di dalamnya berisi bangunan tradisional untuk homestay, rumah makan dan beberapa tempat yang digunakan untuk mempelajari pertanian. Aziz menyebut, konsep yang diusung Wulenpari memang lebih ke arah tradisional dan sarat akan nilai budaya.

“Konsep ini kami gunakan lebih ke arah tradisional jawa, dengan harapan wisatawan dapat mengenal sekaligus akan warisan budaya,” tutupnya. (Falentina)

Related Post