Mengupas Desa Penari Di Gunungkidul

155 views

Gunungkidulpost.com – Semin –
Kesenian Tayub merupakan pertunjukan seni yang diadakan untuk ungkapan rasa syukur ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa melalui media sedekah bumi ( bersih desa ) akan keyakinan pada dayang ( penunggu ), ataupun pada saat masyarakat punya hajat yang biasanya diselenggarakan pada saat musim panen.

Sampai saat ini Keberadaan Tayub masih bertahan seperti yang terjadi di Dusun Badongan, Desa Karangsari, Kecamatan Semin, Gunungkidul.

Sebagian masyarakat menganggap kesenian tersebut untuk hiburan dan dapat di terima dengan baik dimasyarakat.

Desa Karangsari banyak dikenal dengan desa kesenian Tayub. Dimana sejarah dari jaman dahulu banyak penduduk setempat yang ikut dalam paguyuban maupun sanggar kesenian Tayub.

Letak desa yang berada jarak kurang lebih 30 km kearah timur dari Pusat Kota Wonosari masih menunjukkan keindahan alam kampung yang asri.

Meski dikanan kiri jalan menuju desa hanya berbalut pemandangan sawah yang kering kerontang namun hal itu tak mematahkan semangat warga Badongan untuk berkreasi meningkatkan seni budaya peninggalan nenek moyang.

Sesampainya di rumah Mbah Gunem, ia mengupas mengenai kesenian Tayub.

Mbah Gunem (64) merupakan salah satu dari penari Tayub yang ada di Dusun Badonga, Desa Karangsari.

Dia mengaku, sejak tahun 1968 Mbah Gunem menjadi seorang penari Tayub. Kala itu ia masih duduk dibangku kelas 4 sekolah dasar (SD). Dari situlah ia mulai memekuni kesenian Tayub untuk memberikan hiburan kepada masyarakat.

“Saya dulu butuh uang karena orang kampung paceklik. Dan berawal sering diajak dengan keluarga untuk ikut Tayub lalu saya mendapatkan uang tanggapan. Akhirnya saya senang dan sering diajak pentas,” ucap Mbah Gunem saat ditemui Gunungkidulpost.com, Kamis (19/9/2019).

Mbah Gunem mengaku, pertama kali mendapatkan hasil jerih payah dari penari Tayub yakni menerima Rp 10 ribu untuk sekali tampil. Kala itu, hasil yang ia dapatkan mampu untuk menopang kebutuhan hidupnya.

“Dulu uang Rp 10 ribu jika disamakan dengan sekarang setara Rp 500 ribu. Keasikan tempil diberbagai tempat akhirnya saya putus sekolah dan lebih mementingkan untuk menekuni sebagai penari Tayub,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, Mbah Gunem semakin tenar dan kebanjiran jam terbang untuk tampil diberbagai daerah di DIY maupun Jawa Tengah. Dengan keluwesan tubuh dalam menari membuat kalangan masyarakat terhipnotis serta membuat Mbah Gunem semakin tenar.

“Sering ditanggap diberbagai daerah seperti Wonogiri, Pacitan, Salatiga, Jogja, hingga Jakarta dan Purworejo. Tapi paling ramai dan sering nanggap saya ya di Purworejo itu,” ucapnya.

Penampilannya di Purworejo Jawa Tengah menjadi idola masyarakat setempat. Sejak puluhan tahun lalu Mbah Gunem jadi langganan di bukan Besar.

“Saya juga pernah diundang tampil di Taman Mini Indonesia Indah. Tapi Kalau di Purworejo, tiap Besar pasti menanggap saya dan rombongan. Kalau tampil disana dari sore bisa sampai pagi,” katanya.

Berkat usahanya yang sudah malang melintang, akhirnya pada tahun 2014 Mbah Gunem mendapatkan Piagam Penghargaan oleh Bupati Gunungkidul Badingah sebagai pelopor kesenian Tayup.

“Ya dulu saya mendapatkan piagam dari Bupati Gunungkidul,” imbuhnya.

Namun sayangnya, seiring dengan berkembanganya zaman, kesenian Tayub saat ini hampir punah lantaran regenerasi muda yang minim mau mempertahankan kekayaan budaya ini.

“Untuk mengembangkan Tari Tayub ini sangat sulit karena para kaum muda sudah sulit untuk diajari mengenal Tayub ini. Sebagian besar banyak yang tidak minat, jadi saya kesulitan,” ucap Mbah Gunem.

Dirinya hanya bisa berharap, kedepan kesenian Tayub memiliki generasi baru sehingga tidak punah termakan jaman.

“Saya berharap Tayub tidak punah. Nantinya ada pengganti saya yang mau mengembangkan kesenian ini,” paparnya.

Sementara itu, warga setempat Purwanti mengatakan dirinya sejak dibangku SMP ikut dalam kesenian Tayub. Sedikitnya penari Tayub tak membuatnya patah semangat dalam mempertahankan kesenian tradisional ini.

“Kalau penari Tayub hanya sedikit dan itu-itu saja. Tapi ini tidak jadi masalah untuk saya terus berkarya. Mudah-mudahan kedepan kaum muda ada yang berminat untuk melestarikan Tayub inj,” tutupnya. (Bayu)

Related Post