Menikmati Keindahan Goa Baru Di Perut Bumi Handayani

51 views

Gunungkidulpost.com – Ponjong – Salah satu destinasi wisata minat khusus Goa Cokro, yang terletak di Dusun Blimbing, Desa Umbulrejo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, mulai dibumingkan.

Meski belum banyak yang mengetahui, namun keindahan goa vertikal tersebut tak kalah dengan goa lainnya yang ada di Gunungkidul.

Untuk masuk ke gua Cokro membutuhkan nyali yang tinggi, karena untuk masuk ke dalam gua harus menggunakan tali, dengan menuruni kedalam hingga mencapai 18 meter.

Lubang goa vertikal yang memiliki diameter 1 meter dengan panjang 1,5 meter mirip sumur tersebut bagaikan kerajaan nan indah di perut bumi.

Obyek wisata yang dikelola secara mandiri oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) ‘mekars’ ini terus dikembangkan oleh pengelola melalui berbagai media sosial guna menambah jumlah kunjungan pariwisata yang ada di bumi Handayani.

Sebelum masuk gua, pengelola melakukan brefing kepada pengunjung tentang apa saja yang perlu diikuti saat masuk ke dalam gua.

Ketua Pokdarwis Purwanto mengatakan, untuk bisa masuk di Goa Cokro ini harus dengan rombongan. Tidak bisa satu orang, namun minimal 10 orang dengan biaya Rp 1.000.000.

Saat menyusuri gua harus melalui pinggir, tidak boleh melewati tengah, karena dikhawatirkan ada batuan stalakmit jatuh.

“Caranya masuk dengan rombongan karena ini merupakan destinasi wisata minat khusus,” ujarnya saat ditemui Gunungkidulpost.com, Senin (30/4/2018).

Menurut dia, meski sudah dikelola sejak 2010 lalu, namun gua ini belum banyak dikunjungi wisatawan. Setiap bulannya rata-rata sebanyak 20 orang yang berkunjung.

“Tidak hanya dalam negeri namun banyak wisatawan dari luar negeri, seperti Korea,” ucap Purwanto.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi mengatakan melalui dinas pariwisata pihaknya berkomitmen untuk mendorong masyarakat mengembangkan potensi di wilayahnya masing-masing.

Untuk Goa Cokro diharapkan pengunjung dan masyarakat tidak merusak kondisi gua.

“Gua ini sebagai salah salah satu destinasi konservasi, artinya yang datang dibatasi, dan harus sesuai protap. Sebab, jika rusak terbentuknya lama hingga ratusan tahun, itupun jika masih diberikan kesempatan memperolehnya lagi,” papanya.

Menurut Immawan, sebagai salah satu dari 13 geosite Gunung Sewu Unesco Gobal Geopark yang ada di Gunungkidul, hendaknya pengelola terus menjaga ekosistem didalamnya.

“Harus dijaga untuk konservasi, jangan sampai rusak hanya karena bisnis,” tutup Immawan. (Bayu Prihartanto)

Related Post