Minyak Goreng Kelapa Masih Bertahan Ditengah Tuntutan Globalisasi

106 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Usaha rumah tangga minyak goreng berbahan baku kelapa hibrida yang berada di Dusun Gedangsari, Desa Baleharjo hingga kini masih bisa bertahan. Selama ini industri rumah tangga ini mengalami persaingan ketat dengan industri besar minyak goreng pabrikan.

Berdiri sejak tahun 1985, Paekan/Tumi salah seorang pengusaha minyak kelapa mampu bersaing ketat dengan minyak berkemasan pabrik.

“Minyak kelapa masih bisa bertahan karena minyak ini masih cukup banyak diminati masyarakat,” kata Paekan saat di temui wartawan Gunungkidulpost.com, Rabu (5/12/2018).

Menurut dia, dengan masih tingginya peminat monyak goreng kelapa tersebut produksi usahanya sebagian besar masih tradisional dan menggunakan tenaga manusia. Hal itu dilakukan lantaran ia ingin menjaga kualitas produksi sesuai dengan permintaan masyarakat.

“Kami masih menggunakan cara tradisional untuk memproduksi minyak kelapa ini,” ucapnya.

Kegiatan produksi dari pabrik mini ini hanya bisa memproduksi sekitar 15 botol perhari dengan asumsi perbotol mencapai 750 liter.

“Dalam sehari menghabiskan 100 kelapa untuk bahan baku. Dengan bahan sebanyak ini menghasilkan 15 botol minyak, perbotol 750liter,” jelasnya.

Menurut Paekan, harga setiap botol minyak kelapa ini dibandrol sebesar Rp 40.000. Hasil produksinya sejak dulu hingga saat ini hanya pasarkan di Pasar Argosari, Wonosari. Disamping menghasilkan minyak, hasil menyulingan tersebut menghasilkan blondo sebagai bumbu campuran gudeg,

“Selain minyak kelapa hasil laninya seperti blondo juga kami jual dipasaran dan bisa menambah rasa gudeg yang lebih lezat serta maknyus,” imbuhnya.

Sementara itu, Yashinta Kristi warga Baleharjo merasa diuntungkan dengan adanya minyak kelapa murni. Sebab virgin oil diklaim sebagai obat saat tubuh terkena alergi.

“Selain untuk memasak, virgine oil ini juga sebagai obat alergi dan ini sangat bermanfaat sekali,” ungkap Yashinta Kristi. (G2)

Related Post