Mogok Kerja Belasan Hari, Ini Tuntutan GTT/PTT Gunungkidul

46 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Para guru tidak tetap/pegawai tidak tetap (GTT/PTT) Gunungkidul mulai mogok kerja yang direncanakan berlangsung selama 14 hari kerja pada 15-31 Oktober 2018 mendatang.Mereka menyebut aksi ini merupakan bentuk protes para GTT terkait dengan peraturan mentri nomor 36 tahun 2018, karena diskrimiansi guru honorer yang telah mengabdi. Meski mengaku berat meninggalkan tugas mengajar murid-murid, mereka tak berdaya.Lalu apa sebenarnya tuntutan para GTT/PTT itu sehingga melakukan aksi mogok dalam waktu selama itu? Berdasarkan informasi yang dihimpun Gunungkidulpost.com, ada beberapa tuntutan GTT/PTT yang hendak disuarakan lewat aksi mogok kerja itu.Diantaranya, GTT/PTT menuntut pencabutan Permenpan RB No. 36/2018 tentang Kriteria Penetapan Kebutuhan PNS 2018, karena tak relevan dan diskriminatif. Sesuai Permenpan itu, pemerintahmembatasi usia maksimal 35 tahun bagi GTT/PTT untuk ikut seleksi CPNS, menetapkan syarat-syarat yang menyulitkan, dan ambigu.

“Ini merupakan bentuk protes para GTT terkait dengan peraturan mentri nomor 36 tahun 2018, karena diskrimiansi guru honorer yang telah mengabdi. Maka kami akan menggelar aksi ini secara serentak,” kata Ketua FHSN Kabupaten Gunungkidul Aris Wijayanto, Kamis (11/10/2018).

Aris menuturkan, dengan aksi tersebut Pemerintah lebih membuka mata untuk kelangan honorer. Sehingga kesejahteraan dan pengabdian para honorer yang selama ini dipandang sebelah mata bisa segera dituntaskan.

“Harapan kami Pemerintah harus segera ambil tindakan dan mengabulkan tuntutan kami,” tandas Aris.

Aksi mogok kerja GTT/PTT ini diprediksi akan membuat kalangan pendidikan di Kabupaten Gunungkidul kelimpungan. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dipastikan menjadi tidak maksimal.Hingga saat ini, pihak Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga enggan memberikan komentara banyak mengenai adanya wacara mogok kerja oleh kalangan GTT dan PTT.

“Pada beberapa hari yang lalu saya sudah ketemu dengan teman-teman honorer dan sudah membahas panjang lebar, yang mau gimana lagi kondisi tenaga pendidik juga seperti ini,” ungkap Kepala Disdikpora Gunungkidul, Bahron Rasyid. (Santi)

Related Post