Obyek Wisata Gunung Ireng Jadi Icon Desa Pengkok

33 views

Gunungkidulpost.com – Patuk – Dalam rangka meningkatan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, berupaya terus mengolah objek wisata Gunung Ireng.

Obyek wisata itu mulai dirintis tahun 2010 namun baru di tahun 2013 secara resmi dibuka untuk wisatawan umum.

Upaya tersebut diharapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di desa setempat.

Kepala Desa Pengkok, Sugit mengatakan pengembangan wisata Gunung Ireng sejak 2010. Dari situlah pihaknya mulai meritis mengembangkan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Awalnya cukup sulit mengembangkan Gunung Ireng menjadi lokasi wisata karena banyak warga masih ragu untuk berperan aktif melakukan pengembangan,” katanya kepada wartawan, Minggu (19/8/2018).

Ia mengatakan warga semula beranggapan wisata hanya sebatas pantai di Gunungkidul, tetapi kini mulai sadar dan ikut berperan serta melakukan pengembangan.

Langkah awal yang menurut tepat ialah dengan cara melakukan promosi melalui media sosial.

Dia mengatakan, objek wisata Gunung Ireng saat ini mulai ramai dikunjungi wisatawan.

Pengunjung bisa melihat matahari terbit, merasakan kabut pagi hari. Harga tiket masuk sangat terjangkau, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp3.000.?

“Wisatawan berfoto dan mengunggahnya di media sosial. Kami juga melakukan hal yang sama,” ucap Sugit.

Sugit mengatakan selama ini juga sudah banyak bantuan dari pemerintah dalam pengembangan. Diantaranya pembukaan akses jalan hingga pembangunan gazebo.

“Ada bantuan lagi dari Dinas Pariwisata DIY belum lama ini. Kami gunakan untuk perbaikan jalan, dan pembangunan gazebo untuk tempat duduk-duduk menikmati suasana di sini. Dua minggu ini mungkin selesai,” paparnya.

Selain wisata alam, kata Sugit, Gunung Ireng juga sebagai wisata edukasi, karena bebantuan di Gunung Ireng dapat menjadi media pembelajaran terbentuknya Gunung Ireng tersebut dan bebatuan yang ada di sana.

Sugit juga menekankan pengembangan Gunung Ireng akan terus dikelola warga, dan sangat membatasi masuknya investor. Hal itu dikarenakan adanya kekhawatiran masyarakat lokal justru kehilangan peran. (G1)

Related Post