Pengaturan Skor Tak Pengaruhi Mental Pemain Sepak Bola Usia Dini

226 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Adanya mafia bola dalam Match fixing atau pengaturan skor pada olahraga sepakbola beberapa bulan lalu menjadi sorotan publik, namun hal itu tak akan berpengaruh pada mental pemain sepakbola pada khususnya pemain usia dini.

Sesepuh PSS Sleman Subardi, atau sering disapa mbah Bardi, saat mendatangi Coaching Clinic memaparkan bahwa adanya pengaturan skor pada olahraga sepakbola yang marak diperbincangkan tidak mempengaruhi mental pemain khususnya kelompok pemain usia muda.

“Saya yakin match fixing tak akan mempengaruhi mental pemain usia dini,” katanya saat mendatangi Coaching Clinic bersama Seto Nurdiantoro, di Lapangan Siraman, Wonosari, Rabu (2/1/2018) sore.

Menurutnya, sepakbola bukan hanya sekedar olahraga saja tetapi dalam sepakbola mempunyai filosofi yang kuat dalam membangun karakter anak-anak seperti dalam sepakbola diajarkan untuk sportif, jujur.

“Kita perlu untuk mendidik pemain-pemain seja usia muda ini,” ucapnya.

Jika pemai-pemain usia dini dapat dilatih dengan baik dan tidak terkontaminasi oleh pengurus-pengurus yang melakukan kecurangan maka output pemain juga akan baik.

“Apa yang harus kita perbuat? Ya, habisin saja semua bersihin semuanya, selesai urusannya,” tegasnya.

Ia mengatakan potensi-potensi atlet sepakbola di Gunungkidul sangat besar mengingat jumlah penduduk di Gunungkidul tergolong besar, dengan jumlah penduduk yang banyak maka banyak juga anak-anaknya sehingga dibutuhkan kompetisi.

“Agar mereka anak-anak senang sepakbola orangtua harus mau menyediakan fasilitasnya, tak hanya orangtua pengcab Gunungkidul menyiapkan pelatih yang berlisensi,” ujarnya.

Sementara itu pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiantoro mengatakan untuk mendapatkan atlet sepakbola yang berkualitas dibutuhkan kompetisi-kompetisi pada usia muda, atlet usia dini jangan hanya berlatih saja tetapi dibutuhkan kompetisi.

Ia berharap agar kompetisi dilakukan secara berjenjang jadi dengan kompetisi yang berjenjang dapat memberikan kesempatan anak-anak untuk bermain sepakbola dengan atmosfer kompetisi.

“Jangan hanya berlatih saja, anak-anak kelihatan progresnya saat ada kompetisi kalau hanya berlatih saja mereka akan jenuh,” tutup Seto. (Bayu)

Related Post