Peringati 1 Suro, Kirab Pusaka Diarak Pasukan Masuk Rumah Budaya

185 views

Gunungkidulpost.com – Nglipar – Suasana riuh mewarnai acara adat kirap pusaka di Padukuhan Pengkol, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar, Minggu, (1/9/2019).

Kemeriahan nampak saat pasukan lombok abang mulai berjalan seiring dengan munculnya rombongan pria berpakaian adat jawa dengan menggenggam erat tombak dan keris di tangannya.

Pusakan di arak menuju rumah budaya, kemudian di terima oleh para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta untuk ditempatkan di tempat yang telah di persiapkan yakni di rumah budaya Padukuhan Pengkol.

Ketua Panitia Muryanta menyampaikan, acara ini selalu digelar setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Suro sejak 2012 lalu.

Kirap pusakan dilaksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya dengan tujuan untuk menghilangkan sukerto, balak mala petaka atau energi-energi negatif yang berada di Desa Pengkol.

“Kirab kita mulai dari rumah budaya sebagai sentral pemberangkatan menuju Desa Kedungpoh sebagai penerima pusaka, dilanjutkan menuju pesarean Ki Ageng Damarjati,” terang Muryanta.

Di pesarean Ki Ageng Damarjati, selain mendoakan, peserta kirap juga sekaligus menuakan (nyepuhke) wesi aji atau pusaka yang mereka bawa, dengan harapan mereka mendapat barokah atas ijin dan ridho Allah SWT.

Adapun pusaka utama yang di kirap yakni Payung Agung, Tombak Korowelang, Cemethi Pamuk yang diikuti pusaka masyarakat yang berbeda – beda jumlahnya di setiap tahun.

Lebih detail Muryanta menjelaskan, Payung Agung menggambarkan pengayoman untuk memayungi masyarakat. Sedangkan Tombak Korowelang yang dilenggahi Kyai Umbul Katon. Umbul itu sumber air yang menggambarkan kehidupan supaya subur, makmur. Cemethi Pamuk yang dilenggahi Kyai Landung atau Kyai Danumoyo, sambung Wagino, Landung itu longgar, menggambarkan supaya panjang umur, panjang pemikiran, panjang rejeki.

Sedangkan Danumoyo yaitu cahaya yang gemerlap yang tidak tampak, menggambarkan harapan supaya ada aura yang terang menyinari bumi atau diri pribadi.

Setelah melakukan prosesi ritual di pesarean Ki Ageng Damarjati, prosesi kemudian berlanjut dengan tradisi Nguras Gentong di pendapa kecil berselimutkan kain putih yang berada tidak jauh dari rumah budaya.

“Dalam prosesi tersebut, warga rela antre berjejal untuk mendapat air dari dalam gentong tersebut. Warga percaya bahwa akan mendapat berkah dengan air tersebut,” ujarnya.

Selain acara tersebut, kirap pusaka didukung dengan kemeriahan acara pertunjukan kesenian tradisional lainnya diantaranya gejog lesung, jathilan, reog, serta atraksi silat.

Hadir pula dalam acara ini, Wakil Bupati Kabupaten Gunungkidul, Immawan Wahyudi, Kepala Dinas Kebudayaan Agus Kamtono dan Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul Endah Subekti.

Dalam kesempatan tersebut, Immawan memberikan apresiasi terhadap setiap tradisi yang ada. Menurutnya hal ini merupakan bagian dari pelestarian budaya dan tradisi yang ada di Gunungkidul.

“Hal ini sesuai dengan visi misi Bupati Gunungkidul, untuk mengangkat dunia pariwisata dan melestarikan tradisi dan budaya yang ada,” terangnya.

Immawan berharap, upacara adat ini bisa terus dilestarikan. Sudah menjadi tugas bersama untuk merawat, menjaga serta melaksanakan tradisi yang dimiliki daerah. (Santi)

Related Post