Puskesmas Diminta Respon Cepat Tangani Gizi Buruk

image

Salah Satu Puskesmas Di Gunungkidul. (Foto: Bayu)

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Munculnya kasus gizi buruk menjadi salah satu peringatan bagi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul untuk melakukan tindakan antisipatif.

Kini setiap puskesmas diminta mengintensifkan pemantauan dan merespon cepat untuk menghindari kasus gizi buruk.

Pelakasana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Gunungkidul, Sudjoko mengatakan peran puskesmas di setiap kecamatan sangat penting untuk mengantisipasi adanya kasus gizi buruk. Oleh sebab itu dia memerintahkan setiap puskesmas melakukan pemantauan. Hal itu agar kasus gizi buruk yang terjadi pada balita bernama Fatimah asal Dusun Creno, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari tidak terluang kembali.

“Kami meminta puskesmas untuk melakukan monitoring dan melakukan respon cepat agar kasus gizi buruk tidak lagi terjadi di Gunungkidul atau palling tidak dapat dikurangi,” katanya, saat ditemui Gunungkidulpost.com pekan lalu.

Kasus gizi buruk yang menimpa Fatimah kini sudah dimonitor oleh pihak Dinkes. Saat ini, bayi malang tersebut sedang menjalani pemulihan kesehatan di RSUD Wonosari. Di tengah menunggu proses pemulihan kesehatan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk melakukan monitoring.

Monitoring atau pendampingan nantinya akan dilakukan setelah proses pemulihan kesehatan Fatimah di RSUD Wonosari selesai.

“Kami meminta agar Puskesmas II Gedangsari nanti melakukan pendampingan terhadap perkembangan kesehatan anak maupun anggota keluarga,” bebernya.

Sementara itu, Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawati menambahkan setiap tahunnya di Gunungkidul memang terdapat kasus gizi buruk pada balita. Namun dia mengeklaim setiap tahun angka gizi buruk mengalami penurunan.

“Yang jelas kasus gizi buruk setiap tahunnya selalu menurun,” katanya.

Dia menjelaskan kasus gizi buruk disebab kan oleh sejumlah faktor, seperti kehamilan yang terlalu muda atau karena memang kurangnya asupan nutrisi saat masa kehamilan.

“Balita adalah usia yang rentan terhadap kematian, baik itu karena gizi buruk ataupun sebab lainnya. Oleh karena itu selama ini program kesehatan dari pemerintah lebih diintensifkan pada balita,” tutupnya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post