Rest Area Unik Ada Di Al-Mumtaz

253 views
image

Foto: Istimewa

Gunungkidulpost.com – Patuk – Rest area selain sebagai tempat peristirahatan bagi pengendara kendaraan juga untuk melepas penat. Namun berbeda dengan lokasi rest area yang ada di Jl. Yogya-Wonosari KM.25, Kerjan, Beji, Patuk, Gunungkidul. Rest area Al-Mumtaz ini dijadikan wisata edukasi juga dapat menambah pengetahuan anak-anak.

Tempat tersebut juga dikelola sebagai wisata edukasi batik dengan harga yang terjangkau. Belajar membatik di lokasi tersebut harganya sangat terjangkau yakni Rp25.000. Untuk kain yang kecil seukuran sapu tangan hanya Rp15.000.

Pengunjung bisa belajar membatik dari mencanting hingga proses pewarnaan, setelah itu hasilnya juga bisa dibawa pulang.

“Kain yang kami sediakan pun sudah ada motifnya, tapi kalau mau bikin motif sendiri juga bisa,” terang ketua enterpreuner Pondok Pesantren Al-Mumtaz, Ahmad Muzaki, Kamis (9/11/2017).

Jika ingin praktis, pengunjung dapat membeli kain batik atau pun baju yang telah siap pakai. Motifnya pun beragam dan unik, di mana pengunjung dapat menemukan batik dengan motif gaplek yang menjadi ciri khas tersendiri.

“Ini sebenarnya gambar singkong, jadi motif gaplek itu dikembangkan karena Gunungkidul itu banyak tanaman singkong jadi seperti menjadi ciri khasnya,” ujarnya.

Selain menyediakan wisata edukasi batik, pengelola juga menyediakan alat-alat melukis, sehingga pengunjung juga dapat belajar melukis di tempat tersebut.

Tempatnya pun di atur begitu cantik dan instagramable, misalnya samping ruang membatik dan melukis, digantung puluhan baglog jamur tiram yang cocok untuk berswa foto. Selain untuk berswa foto pengunjung juga dapat memesan aneka olahan jamur tiram dari jamur yang ditanam tersebut.

Makanan yang disediakan pun juga terjangkau seperti harga pada umumnya. Pengunjung bisa menikmati minuman, gorengan ataupun makanan berat lainnya dengan harga terjangkau mulai dari Rp700 hingga Rp12.000.

Rest area dan wisata edukasi tersebut dikelola oleh para santri dari Ponpes Al-Mumtaz yang rata-rata kini berusia 17 hingga 20 tahun.

“Mulai dari pengelolaan tempat wisata, produksi batik, pengelolaan kuliner, hingga proses pembangunan semuanya dikerjakan oleh para santri,” tutupnya. (Heri)

Posted from WordPress for Android

Related Post