Rindu Mainan Tempo Dulu, Kirab Budaya Desa Kepek Kebanjiran Permainan Tradisional

21 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Anak-anak zaman dahulu pasti mengenal permainan yang dirangkai dari kayu sedemikian rupa agar menghasilkan bunyi “tok..tok..tok.”

Saat main menghasilkan bunyi itulah, biasanya anak-anak merasa riang.

Di Gunungkidul, nama permainan seperti ini disebut otok-otok. Ada pula yang menyebutnya klotokan.

Salah satu bentuk otok-otok yang populer ialah bentuk bulan diserta gagang pendek. Di bagian bulatan tersebut terdapat anak kayu. Cara kerjanya tak ubahnya miniatur bedug. Cara memainkannya cukup diputar pada gagang, sehingga anak kayu berupa pentungan super mini tadi memukul kayu yang bulat. Akhirnya muncullah bunyi tok..tok…tok…

Selain bentuk ini, ada pula bentuk lainnya. Gagangnya panjang. Sementara sekitaran pusat bunyi dipasangi roda. Cara memainkannya agak berbeda dengan bentuk yang pertama. Bentuk ini dimainkan dengan cara mendorong, tak ubahnya memainkan mobil-mobilan. Dari sanalah, saat didorong, muncul bunyi tok…tok…tok…

Seperti yang diperagakan oleh ratusan anak-anak di Dusun Trimulyo 1, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari saat mengikuti kirab budaya Desa Kepek, Sabtu (14/7/2018).

Menurut Ketua Karang Taruna Dusun Trimulyo 1, Feri mengaku diera mederen seperti saat ini permainan tok..tok..tok..ini sangat jarang dijumpai. Oleh sebab itu pihaknya mengajak ratusan anak untuk menampilkan permainan tradisional tempo dulu.

“Ini termasuk permainan tradisional yang ditinggalkan oleh anak-anak. Sehingga kami mengajak untuk terus melestarikan permainan tradisional,” kata Feri kepada wartawan, Sabtu (14/8/2018).

Uniknya, peralatan ini benar-banar menggunakan bahan bekas seadabya yang talah berhasil dirangkai oleh kalangan Karang Taruna. Bermodalkan ketekunan, hasil karya permainan tradisional otok..otok..ini mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak untuk belajar melestarikan permainan tradisional.

“Kita manfaatkan bahan bekas untuk merangkai sehingga menjadi sebuah sarana yang digunakan bermain anak-anak,” paparnya.

Pihaknya berharap, dengan upaya melestarikan permainan tradisional ini anak-anak maupun kalangan umum mampu termotivasi untuk tetap melestarikan kebudayaan jaman dulu.

“Kami harap permainan ini tidak ditinggalkan sehingga terus dilestarikan jangan sampai pudar,” pungkasnya. (G1)

Related Post