Sambangi Santri, Ini Harapan Pak Menteri Kominfo

183 views

Gunungkidulpost.com – Patuk – Maraknya berbagai media yang berisikan radikalisme dan terorisme membuat Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara angkat bicara.

Pihaknya berharap para santri di Gunungkidul bisa membuat konten postif untuk mengkonter adanya konten negatif.

Santri yang saat ini masih belajar diharapkan akan menjadi masa depan pemimpin pada tahun 2030.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, di pesantren Al Mumtaz para santri akan diperbolehkan untuk membawa ponsel. Hal ini sebagai salah satu upaya menyiapkan diri tahun 2030 mendatang dimana para santri saat itu memasuki usia produktif.

Namun demikian, pihaknya berharap penggunaan ponsel tetap diawasi.

“Santri masa depan bangsa, seperti tadi saya sampaikan kita lihat 2030 usia para santri ini usia produktif bagaimana kita menyiapkan menjadi masyarakat indonesia yang usia produktif 2030 dah harus mengikuti era digital,” kata Rudianta disela Bakti sosial dan safari Ramadhan hari Kebangkitan nasional 2018 di Pesantren Al Mumtaz, Patuk, Senin (21/5/2018).

Menurut dia, perkembangan digital semua serba digital. Pihaknya seneng pak kyai Khoeren (Pengasuh Ponpes Al Muntaz) ponsel diperboleh di pesantren.

Akan tetapi harus dibatasi dengan waktu penggunaan ponsel tersebut.

“Adik-adik ini harus menghindari konten-konten yang negatif,” ucapnya.

Menurut dia, dalam perayaan kebangkitan nasional tahun ini dibuat berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar di Surabaya. Tahun ini pihaknya memusatkan di Yogyakarta, dan digunakan untuk mengunjungi pondok pesantren.

“Kita harus memaknainya acara di pesantren. Biar bagaimanapun kyai salah satu pendiri bangsa kita dan wajib menghormati yang mendirikan bangsa ini,” paparnya.

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Al Muntaz Mohamad Khoeron Marzuki mengatakan, tugas pesantren sebagai anak bangsa dengan mengisi kemerdekaan dengan cara yang postif. Pesantren Al Muntaz mendeklarasikan diri sebagai berbasis enterpreuner.

“Jangan sampai kita menjadikan beban negara. Tetapo Lulusan Al Muntaz, harus mampu mendirikan lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Para Santri pun mulai mengembangkan lapangan pekerjaan sehingga produk yang dihasilkan oleh para santri seperti batik, detergen, air meineral, dan roti dapat diterima oleh pasar usaha. (Bayu Prihartanto)

Related Post