Sejarah Jubungan Gubug Gedhe, Warga Kompak Siapkan Tradisi Adat

image

Ratusan Warga Desa Ngalang, Gedangsari Menyiapkan Upacara Adat. (Foto: Santi)

Gunungkidulpost.com – Gedangsari – Semenjak berdirinya Desa Ngalang,  Tradisi pendirian Jubungan Gubug Gedhe sudah ada dari jaman nenek moyang.

Tradisi yang rutin dilakukan disetiap tahunnya itu melibatkan seluruh warga  dalam rangka persiapan 35 hari sebelum upacara adat Rasulan digelar.

Kaderi, Kepala Desa Ngalang menyampaikan bahwa Jubungan Gubug Gedhe ini terbuat dari bambu dan belarak (daun kelapa) yang kemudian oleh warga dianyam yang oleh warga menyebutnya dengan istilah

“Gedepe” yang nantinya akan digunakan sebagai atap Jubungan.
Ini memang sudah menjadi tradisi turun temurun, dan Jubungan ini tidak boleh dibuat permanen, kita hanya menggunakan bambu dan daun kelapa yang nantinya akan di bongkar kembali setelah upacara adat rasulan selesai,” jelas Kaderi kepada Gunungkidulpost.com, Minggu, (11/6/2017).

Desa Ngalang yang terdiri dari 14 Dusun, nantinya akan mendapat giliran untuk membuat Jubungan Gubug Gedhe ini. 

“Jadi setiap desa akan mendapat giliran setiap 14 tahun sekali untuk membuat Jubungannya, sedangkan bagian samping Jubungan yang oleh warga disebut “emperan” akan dikerjakan 13 dusun yang lain secara bersama-sama,” terangnya.

Oleh warga,Jubungan Gubug Gedhe ini nantinya akan dihias sedemikian rupa agar tampak menarik. Kegiatan menghias Jubungan akan dilakukan satu hari sebelum hari H upacara ada Rasulan dimulai.

“Nantinya kita akan adakan upacara adat seperti pertunjukan ledhek dan acara adat lainya,” paparnya.

Lebih lanjut Kaderi menuturkan, tari ledhek merupakan pertunjukan seni yang diadakan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui media sedekah bumi atau yang sering disebut dengan istilah Rasulan atau bersih desa yang dilakukan setelah panen.

“Pertunjukan ini besok akan sangat meriah dan menarik tentunya, tari ledhek yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak ini terlihat dari kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan,” ungkap Kaderi.

Dalam acara bersih dusun yang akan dilakukan 35 hari setelah pendirian Jubungan ini akan sengat meriah dengan arak-arakan pawai gunungan yang melibatkan 14 dusun yang ada di Desa ngalang. Selain itu, dimalam acara puncak bersih desa akan dilaksanakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Apapun lakonnya dalam  pewayangan, nantinya harus diakhiri dengan cerita “sri mulih”(sri itu dewi padi, mulih itu pulang) yang mengandung arti padi pulang atau panen berhasil dan harapannya setelah diadakan upacara ini panen padi akan berhasil. (Santi)

Posted from WordPress for Android

Related Post