Sukiyana Jadi Artis Dadakan Wujudkan Mimpi 4.000 Warga

image

Suliyana Pemuda Desa Yang Merantau Mampu Mewujudkan Impian Ribuan Warga. (Foto: Bayu)

Gunungkidulpost.com – Rongkop – Sukiyana (30) pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh lepas di salah satu even organiser di Surabaya ini tak menyangka bisa membuat bangga dan terharu bagi 4.000 warga Desa Pringombo, Kecamatan Rongkop, Minggu (23/7/2017).

Bagaimana tidak, Sukiyana yang hanya lulusan sekolah dasar tersebut akhirnya mampu memenangkan karya tulisan yang dikirimnya hingga membuat ribuan warga mampu menikmati hasil jerih payahnya.

Sejak umur 12 tahun, atau sekitar tahun 2001, anak kedua pasangan Paino dan Suprapti ini awalnya ekerja sebagai penjaga toko di daerah Bogor, Jawa Barat. Anak seusianya masih sibuk belajar di tingkat SMP, dan bermain. Sukiyana setiap hari membantu melayani pembeli.

“Saya dulu pertama kali merantau di Bogor 2001, bantu di warung, lalu pulang lagi, dan pergi Kalimantan Barat. Di Surabaya baru 2013 lalu,” kata Sukiyana saat ditemui Gunungkidulpost.com dalam acara ‘Yogrt Pesta’in Sekampung’ oleh Aplikasi Yogrt di Lapangan Desa Pringombo.

Sebagai anak desa yang merantau dirinya bersama komunitas perantau asal desa setempat membentuk wadah kumpulan keluarga perantau. Setiap ada even hari besar dan bersih desa, mereka mengumpulkan uang dari hasil bekerja dan dikirimkan ke kampung halaman. Dari pengalaman inilah dia tuangkan dalam sebuah cerita kecil yang diunggah dalam akun Yogrt miliknya.

“Sebagai pengguna aktif, saya biasnaya hanya membaca, lalu karena banyak yang mengirim saya mencoba menulis cerita,”ucap pria yang hanya lulusan SD.

Tulisan pribadinya dia ingin mengumpulkan warga tidak membedakan status sosial dan agama untuk bersilaturahmi di bulan Syawal. 

Adapun isi tulisannya, ” Di kampung ini aku dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tuaku. Orang tuaku adalah pahlawan hidup dan matiku. Aku punya 1 saudara laki-laki yang umurnya 4 tahun di atasku. Dia adalah kakak kandungku, yang selama ini menemani dan membantu kedua orang tuaku di desa. Sedangkan aku,  selama ini selalu hidup di perantauan. Dengan pekerjaan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat i yang lain. Aku kerja keras. Banting tulang. Siang malam, bahkan sering sampai 24 jam. Hasil kerjaku sebagian aku kasih ke orang tuaku di kampung. Dan entah berapa persennya, aku sumbangkan ke Grup Perantau dari kampungku yang mereka semua tinggal di seluruh Indonesia. Uang yang kita sisihkan dari saku kita, akan kita pakai untuk sedekah atau pesta di kampung. Mengadakan halal bihalal atau Syawalan. Menjalin silahturahmi antar umat beragama. Muslim & non muslim.”

Ternyata dari lebih dari 2000 pengirim, dirinya terpilih menjadi 5 finalis, dan berhak menggelar halal bi halal dengan 4000 warga.

“Alhamdulilah ternyata bisa menyelenggarakan silaturahmi dengan seluruh warga,” ungkapnya.

Sementara itu, warga pun tak menyangka Sukiyana bisa mampu mengumpulkan Orang Se-Kampung.

Salah seorang Warga Ermina Kristiani menceritakan, Sukiyana sejak kecil hidupnya serba kekurangan. Bapaknya yang berprofesi sebagai buruh tani tak mampu menyekolahkan anaknya sampai jenjang lebih tinggi.

“Waktu kecil dia sering main ke rumah saya untuk menonton TV, karena waktu itu desa kami memang jarang yang memiliki TV,” bebernya.

Kedekatan inilah yang menjadikan salah satu perangkat desa Peringombo ini mengetahui keseharian keluarga Paino dan Suprapti. Keluarga dengan dua anak ini hidup sederhana di desa yang terletak di ujung timur Kabupaten Gunungkidul. Setiap malam, bersama orang tuanya Sukiyana menonton tv di rumahnya yang berjarak sekitar 700 meter.

“Tidak nyangka dia bisa membuat acara seperti ini, saya pribadi saat pertama kali mendengar mau ada acara sempat berfikir masa sih bisa,”ujarnya.

Terpisah, Paino ayah Sukiyana, mengatakan sebagai orang tua dirinya bangga. Meski hidup dengan keterbatasan, tetapi anaknya bisa membawa nama baik desa.

“Saya senang sekali, anak saya bisa mengumpulkan warga dan membuat acara sebesar ini,” tuturnya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post