Tak Adanya SPBU di Pesisir, Harga Pertalite Melonjak

image

Gunungkidulpost.com – Saptosari –  Para nelayan harus membeli pertalite dengan harga Rp11.000 per liter untuk berlayar. Tak adanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan pesisir, maka dari itu membuat harga eceran bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite melonjak.

Salah seorang nelayan asal Dusun Sawahan, Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Samto mengatakan, melonjaknya harga pertalite sudah terjadi sejak sebulan terakhir. Harga pertalite yang ditetapkan pemerintah dengan harga Rp8.500 per liter, kini telah melonjak tinggi ditingkat pengeceran mencapai hingga Rp11.000 per liter.

Menurutnya, hal itu terjadi lantaran tidak adanya SPBU di wilayah pesisir yang dapat dijangkau langsung oleh nelayan.

“Kalau ada SPBU di kawasan pesisir, pasti harga pertalite bisa terjangkau dan tidak semahal sekarang,” ungkapnya, Selasa (8/8/2017).

Bersama dengan sekitar 100 rekannya sesama nelayan di Pantai Ngrenehan, Kecamatan Saptosari, untuk pergi melaut ia harus merogoh koceknya lebih dalam. Pasalnya untuk sekali melaut rata-rata BBM jenis pertalite yang dibutuhkan sekitar 10 hingga 15 liter. Atau minimal mereka membutuhkan Rp110.000 untuk membeli BBM dalam sekali melaut.

Biaya yang terlalu tinggi untuk operasional yang tinggi tersebut semakin mempersulit mereka untuk mencari penghasilan di tengah gelombang laut yang sering tidak bersahabat. Hal itu kemudian membuat sejumlah nelayan memilih untuk tidak melaut untuk sementara waktu.

“Dari sekitar 50 kapal [jukung], hanya sekitar 30 kapal saja yang melaut,” kata dia.

Samto berharap, kesulitan nelayan bisa mendapatkan perhatian dari pemerintah melalui instansi terkait. Ketersediaan BBM dengan harga terjangkau tentu sangat dirindukan sehingga kedepan tingkat ekonomi nelayan menjadi lebih baik.

“Namun kami sadar, setiap pekerjaan selalu ada resiko. Hanya saja sangat disesalkan, resiko merugi kami berasal dari mahalnya bahan bakar,” ujarnya. (Heri)

Posted from WordPress for Android

Related Post