Terbentur Aturan, Anak Terlantar Batal Masuk Ke Balai Rehabilitasi

image

Foto: istimewa

Gunungkidulpost.com – Wonosari –  Dava Muhammad Tiyas (12) salah satu warga Desa Wareng, Kecamatan Wonosari mengalami nasib yang naas. Pasalnya anak dibawah umur yang masuk dalam kategori terlantar, ekonomi lemah dan kurang pengasuhan tersebut saat dirujuk oleh pemerintah desa setempat ke Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak (BRSPA) Wonosari tidak membuahkan hasil yang positif.

Harapan mereka untuk dapat masuk dan memperolek standar pengasuhan yang layak tersebut oleh petugas asesmen BRSPA dinyatakan tidak memenuhi kriteria untuk bisa masuk ke balai tersebut.

Kepala Desa Wareng Bambang Sukoco mengatakan, dirinya telah merujuk salah satu warganya yang masih dibawah umur lantaran ditinggal oleh kedua orang tuanya yang kini tidak diketahui keberadaanya. Rujuakan ditujukan ke Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak (BRSPA) Wonosari. Namun dari hasil asesmen, sayangnya anak tersebut tidak memenuhi kriteria masuk dalam aturan yang telah ditetapkan di BRSPA.

“Saya sudah berusaha membantu memberikan solusi supaya anak ini mendapatkan pengasuhan dan kesejahteraan yang layak. Namun hasil yang kami peroleh kok ditolak oleh pihak BRSPA ini kan lucu dan sangat disesalkan mengapa anak yang bener-benar membutuhkan malah di tolak seperti ini,” katanya saat ditemui Gunungkidulpost.com, Selasa (6/6/2017).

Pikahnya pun menuding, aturan yang telalu berbelit membuat sulitnya memasukkan rujukan anak terlantar seperti yang dialami oleh warganya.

“Warga saya ini benar-benar membutuhkan dan berkeinginan bisa masuk ke Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak untuk bisa sekolah dan mendapatkan kesejahteraan yang layak. Apalagi sekarang hanya tinggal bersama simbahnya karena kedua orang tuanya pun sudah berpisah dan entah dimana keberadaanya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang Sukoco menambahkan dengan mendapatkan surat penolakan ini sangatlah disesalkan. Ia pun berharap pemerintah kabupaten Gunungkidul memberikan solusi yang terbaik guna memecahkan permaslahan yang dialami oleh anak tersebut.

“Sangat kami sesalkan penolakan ini, entah alasanya apa, aturanya bagaimana namun yang jelas ini menjadi cacatan bagi pemerintah bagaimana menyelenggarakan pelayanan publik yang kurang beres seperti ini,” sesalnya.

Sementara itu, salah satu pihak keluarga Dava saat ditemui Gunungkidulpost.com, mengaku pasrah dengan hasil penolakan yang dilakukan oleh BRSPA. Besar keinginan mereka untuk memasukkan cucunya di Balai Rehabilitasi.

“Maklum kondisi keluarga kami seperti ini. Orangtua Dava sudah bercerai lama dan anak ini sejak kecil ditinggakan ke saya dan tidak pernah mengirimi uang untuk membesarkan Dava. Sebelum dirujuk, cucu saya pun juga mau dan berkeinginan untuk tinggal sementara di Panti Asuhan yang sekarang telah berganti nama Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak,” bebernya. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post