Terdampak Pembangunan JJLS, Warga Mulai Bongkar Rumah

286 views
image

Foto: Istimewa

Gunungkidulpost.com – Panggang –
Rumah-rumah yang terkena dampak pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) kini mulai dibongkar warga. Pasalnya, proses pembangunan JJLS antara Girisekar hingga Girimulyo, Panggang akan segera dilanjutkan.

Tercatat di wilayah Girimulyo terdapat 30 rumah milik warga yang dibongkar untuk pembangunan JJLS. Kondisi tersebut terlihat di sepanjang jalan Saptosari-Panggang. Dimana sejumlah titik terdapat rumah yang telah dibongkar. Sementara itu, untuk jendela, pintu, atap rumah telah diambil oleh para pemiliknya sebagai bahan membuat rumah yang baru.

Kepala Desa Girimulyo Sunu Raharjo mengatakan, di wilayahnya terdapat 159 bidang yang terkena dampak pembangunan JJLS. Dari jumlah tersebut terdiri dari ladang, perkarangan hingga bangunan rumah milik warga.

“Semua sudah beres karena ganti rugi lahan sudah dilakukan,” katanya, Selasa (31/10/2017).

Dia mengatakan, upaya pembebasan lahan berlangsung lancar dan tidak ada kendala. Setelah pembayaran ganti rugi, warga pun dengan suka rela membongkar rumah-rumah yang terkena dampak untuk pembangunan JJLS.

“Untuk rumah yang dibongkar itu ada sekitar 30 unit. Sekarang ini, para pemiliki juga telah pindah ke lokasi yang baru,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan oleh Camat Panggang Agustinus Gunawan, Pembongkaran rumah-rumah tersebut juga sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan JJLS.

“Tidak ada masalah karena proses pembebasan tanah berjalan dengan lancar,” katanya.

Gunawan berharap, Pembangunan JJLS bisa segera direalisasikan dengan tujuan agar keberadaannya bisa memberikan dampak yang positif bagi warga sekitar, khususnya yang berada di wilayah Panggang.

“Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya kapan pembangunan, apalagi proses pembayaran tanah sudah selesai dilakukan,” ujarnya.

Salah seorang warga Dusun Kadisobo, Girimulyo, Maryoto mengakui sudah membongkar rumah terdampak JJLS sejak dua bulan yang lalu. Pengosongan dilakukan karena tidak memiliki hak atas tanah tersebut.

“Kan sudah dibeli pemerintah. Jadi saya bongkar kemudian dipasang di tempat yang baru,” katanya.

Ia menambahkan, pembongkaran tidak hanya dilakukan dia seorang, karena warga terdampak lainnya juga melakukan hal yang sama.

“Pembongkaran hanya dilakukan untuk perlengkapan rumah yang masih bisa digunakan seperti pintu, jendela hingga atap rumah,” katanya. (Heri)

Posted from WordPress for Android

Related Post