Terungkap, Ini Makna Penting Tradisi Gumbregan Di Gunungkidul

120 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari –
Tradisi masyarakat di Indonesia cukup beragam, bahkan sampai saat ini masih dilestarikan. Seperti tradisi Masyarakat Gunungkidul, Yogyakarta, yang bernama tradisi Gumbregan.

Tradisi gumbregan atau yang dikenal ulang tahun ternak, sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Seperti yang dilakukan warga dibeberapa wilayah di Gunungkidul.

Warga membuat gunungan ketupat di lapangan balai padukuhan setempat. Setelah didoakan bersama ternak oleh para sesepuh, gunungan lalu diperebutkan.

“Kami percaya jika mendapatkan ketupat bisa membawa rezeki bagi kami. Salah satunya hewan ternak kami sehat dan bisa beranak pinak,” tutur Sumarni, salah seorang warga Wonosari, Sabtu (22/6/2019) kemarin.

Setelah itu, para sesepuh dusun setempat memberikan ketupat bagi para sapi. Bagi para petani, hewan ternak di desa merupakan salah satu media untuk bercocok tanam atau membantu mengolah ladang.
Sedangkan kotorannya bisa digunakan untuk pupuk. Dalam perkembangannya, ternak seperti sapi dan kambing menjadi investasi.

“Dengan tradisi ini kami bersyukur kepada Tuhan, atas ternak yang sehat,” ucapnya.

Sementara itu Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, CB Supriyanto mengatakan, dalam tradisi gumbregan, warga membuat berbagai makanan tradisional yang berasal dari hasil bumi. Mulai dari ketupat, ketela, kimpul, trembili, jadah, hingga kolak pisang.
Selain itu, warga membungkus nasi putih beserta lauk pauknya dengan daun pisang yang dibentuk lancip.

Supriyanto menjelaskan, tradisi ini sebagai ungkapan rasa syukur karena Tuhan memberikan kehidupan dan rezeki lewat hewan ternak. Tradisi ini digelar pada bulan Sura atau Muharam, bulan yang dianggap sakral oleh masyarakat Jawa.

“Tradisi ini hampir merata di seluruh kabupaten dan digelar setahun sekali. Masyarakat bersyukur karena diberikan rezeki. Dimana ternak kami telah membantu mengolah lahan dan menopang kehidupan,” tutupnya. (red)

Related Post