Toko Berjejaring Sulit Ditembus, Bagaimana Nasib Industri Kecil

106 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari –
Produk Industri Kecil Menengah (IKM) di Gunungkidul sulit untuk menembus toko berjejaring.

Hal tersebut dikarenakan para pengusaha kecil keberatan lantaran peraturan terkait dengan pembayaran produk.

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kabupaten Gunungkidul, Virgillio, Melalui Kepala Bidang Perdagangan Yuniarti, Selasa (2/4/2019).

“Toko jejaring sudah dihubungkan dengan IKM seperti IKM yang produksi pangan olahan tapi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan oleh toko memberatkan para IKM, karena sistem konsinyasi yang diterapkan barang yang dijual dibayar belakangan hal tersebut memberatkan IKM untuk perputaran modal,” kata Yuniarti.

Ia melanjutkan sebagian memang IKM tetap ada yang menitipkan barang hasil produksinya, namun hal tersebut hanya untuk sebagai batu loncatan saja agar nama produknya dikenal oleh masyarakat.

“Total toko berjejaring dan modern di Gunungkidul ada 98 yang masih aktif, seperti di Wonosari ada 4 toko, di 10 kecamatan seperti di Semanu, Karangmojo, Playen, Paliyan, Rongkop, Tepus, Nglipar, Semin, Ngawen, Patuk masing-masing ada 2 toko,” ucapnya.

Dirinya menambahkan untuk Kecamatan Ponjong memang tidak ada toko berjejarng lantaran ada penolakan dari warga sekitar Ponjong.

Sedangkan sebagai bentuk perlindungan kepada Pasar tradisional yang ada di Gunungkidul pembuaatan toko berjejaring saat ini sangat dibatasi yaitu hanya dua toko untuk satu kecamatan, untuk Kecamatan Wonosari ada 4 buah toko karena toko sudah berdiri sebelum peraturan ditetapkan.

“Ditambah lagi ada aturan jarak yaitu minimal toko berjejaring berjarak 1.500 meter dari pasar tradisional kalau jarak antar toko berjejaring memang belum ada aturannya. lalu kami ada juga revitalisasi pasar untuk menarik jumlah pengunjung,” tutupnya. (red)

Related Post