Tradisi Kirab Pusaka Bagian Dari Peringatan 1 Suro

50 views

Gunungkidulpost.com – Nglipar – Tradisi kirap pusaka dan kuras gentong di Desa Pengkol Kecamatan Nglipar dilaksanakan setiap tahun pada 1 Suro atau 1 Muharram tahun baru islam.

Pada acara tersebut, beberapa pusaka peninggalan leluhur seperti Payung Agung, Tombak Korowelang, Cemethi Pamuk dan pusaka masyarakat yang berbeda – beda jumlahnya di setiap tahun dikirap mulai dari rumah budaya sebagai sentral pemberangkatan menuju Desa Kedungpoh sebagai penerima pusaka, dilanjutkan menuju pesarean Ki Ageng Damarjati.

Purwanto ketua panitia acara menyampaikan, upacara adat ini sudah berjalan lima tahun sejak 2012 lalu. Hari ini, Selasa, (11/09/2018) adalah yang keenam kalinya. Kirap pusakan dilaksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya dengan tujuan untuk menghilangkan sukerto, balak mala petaka atau energi-energi negatif yang berada di Desa Pengkol.

“Di pesarean Ki Ageng Damarjati, selain mendoakan, peserta kirap juga sekaligus menuakan (nyepuhke) wesi aji atau pusaka yang mereka bawa, dengan harapan mereka mendapat barokah atas ijin dan ridho Allah SWT,” terangnya.

Setelah melakukan prosesi ritual di pesarean Ki Ageng Damarjati, peserta kirap kemudian kembali menuju kelokasi awal yaitu rumah budaya. Sesampai di rumah budaya, pusaka kembali diletakan ditempat semula. Tidak berhenti sampai disitu, prosesi kemudian berlanjut dengan tradisi Nguras Gentong.

“Warga antre berjejal untuk mendapat air dari dalam gentong yang kita letakan dalam pendapa kecil berselimutkan kain putih,warga percaya bahwa akan mendapat berkah dengan air tersebut,” kata Purwanto.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi menyampaikan, pemerintah sangat mendukung kegiatan semacam ini.

“Ini sebagai bentuk untuk nguri-uri kebudayaan, menyebarkan energi positif dan menghalau energi negatif,” kata Immawan saat membacakan amanat Bupati.

Selain makna religius, kirap pusaka dan kuras gentong juga terselip tujuan luhur yaitu untuk menjali hubungan yang baik antara sesama manusia melalui sikap kekeluargaan dan kegotong royongan dalam karya bersama.

“Mari bangun desa dengan semangat kebersamaan dengan prinsip dan semangat guyup rukun, sangkul sinangkul ing bot repot serta saiyeg saeka kapti dalam karya dan usaha,” tutupnya. (Santi)

Related Post