Upaya Melestarikan Tembang Dolanan Anak

49 views

Gunungkidulpost.com – Wonosari – Tahun 1938 H. Overbeck mendokumentasikan 690 tembang dolanan anak dalam bukunya berjudul Javaansche Meisjesspelen en Kinderliedjes. Seiring perkembangan zaman, tembang dolanan anak itu sebagian besar sudah punah.

Seorang gadis berkebaya dengan posisi berkelompok dan salah satu diantara mereka tengkurap. Beberapa gadis berkebaya lainnya terlihat sedang menyanyi dan duduk mengelilingi seorang gadis yang tengkurap. Itulah jenis permainan tradisional yang dimainkan sambil melantunkan lagu Cublak-Cublak Suweng.

Cublak-cublak Suweng adalah permainan di mana gadis yang tengkurap harus bisa memilih maupun menebak salah seorang yang membawa gacuk penanda yang dipegang salah satu peserta lainnya. Permainan asal Jawa Tengah yang sudah punah ini dihadirkan kembali oleh belasan anak-anak di Padukuhan Besari, Winong, Sening di Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Jumat (13/7/2018) malam.

Tembang dolanan anak ini disuguhkan pada malam pentas seni Karang Taruna Satya Panca Muda Bulurejo.

Mengisi acara dengan budaya luhur dolanan anak diharapkan dapat menggugah betapa pentingnya budaya dolanan anak pada zaman dahulu yang saat ini mulai punah.

Prakarsa dolanan anak Tuti Enggar mengatakan, tembang dolanan merupakan bagian tak terpisahkan dari permainan anak-anak di masa lalu. Anak-anak memiliki perbendaharaan beberapa lagu dolanan yang dihapalkan luar kepala. Hapalan itu mudah tertanam karena lagu-lagu itu disusun dengan indah. Lantunan lagu dibuat untuk mengiringi permainan mereka.

“Semoga dengan adanya penampilan anak-anak ini dolanan anak ini bisa benar-banar mewujudkan gumegrahnya dolanan anak pada zaman dahulu sekarang yang sudah hampir terlupakan,” katanya kepada wartawan.

Dia menuturkan, permainan anak-anak memang tetap ada sampai sekarang. Hanya, bentuknya sudah berubah dan hampir terlupakan. Anak-anak sekarang lebih banyak bermain games. Games memang menimbulkan kesenangan dan mengasyikkan.

Namun games tidak mendekatkan anak-anak pada alam dan lingkungan. Permainan anak-anak di masa lalu mengajarkan kedekatan dengan alam dan kebersamaan karena dimainkan secara komunal.

Oleh sebab itu, pihaknya sengaja menampilkan pentas didepan panggung dengan mengemas konsep dolanan anak supaya masyarakat tetap teringat dan bahkan turut serta dalam melestarikan kekayaan budaya dari jaman nenek moyang.

“Mudah-mudahan masyarakat akan tergugah lagi dan terus membantu melestarikan kekayaan budaya yang telah peroleh hingga saat ini,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Tidar Setyawan mengatakan, dolanan anak pada saat ini sudah tergerus oleh jaman modern. Untuk itu pihaknya selaku pemuda pemudi ikut serta memunculkan kembali agar membudaya dimasa sekarang.

“Harapan kami dolanan anak ini tidak begitu saja punah. Dan sekaligus dapat terus di lestarikan,” tutup Setyawan. (G1)

Related Post