Warga Patuk Ketiban Berkah Gara-gara Ini

image

Terlihat pengunjung berfoto di Kebun bunga Amarilis (Foto: Istimewa)

Gunungkidulpost.com – Patuk – Bunga Amarilis dulu sempat dipandang sebelah mata dan hanya dianggap sebagai gulma atau tanaman penganggu.
Namun kini, justru bunga orange ini membawa peruntungan bagi warga Gunungkidul.

Salah satu pegiat bunga amarilis di Desa Salam, Patuk, Gunungkidul, Sukadi, menceritakan, bunga Amarilis ini sudah ada di Gunungkidul sejak tahun 1974 silam, bahkan bisa lebih tua lagi. Warga menganggap bunga tersebut sebagai tanaman pengganggu tanaman atau gulma. Tanaman yang dijuluki ‘Bambang Brojol’ itu hanya dibuang, atau dijadikan pupuk saja.

“Sudah sejak lama, ada di sini. Bunga itu tumbuh liar di pekarangan dan ladang milik warga, sehingga kerap dibersihkan,” ujar Sukadi, Jumat (13/10/2017).

Lanjut Sukadi, baru pada tahun 2002, warga Gunungkidul mulai membudidayakan tanaman ini sebagai tanaman bunga atau penghias pekarangan.

Ia pun mencoba melestarikannya di kebun miliknya di Desa Salam, Patuk, Gunungkidul seluas 2.300 meter persegi. Selain kebun dijadikan sebagai daya tarik wisata, bibit bunga dijual kepada pengunjung.

“Bunga yang unik, dijadikan motif batik dan dijual kepada masyarakat,” bebernya.

Sementara itu, Camat Patuk, Haryo Ambar Suwardi mengaku warga melihat ada potensi yang dapat dikembangkan.
Tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung, mendorong warga membuat wisata bunga amarilis. Tak sampai di situ saja, mereka juga mengembangkan motif batik dari bunga amarilis.

“Batik asli kreasi warga kami, dan kini sudah dipatenkan. Selembar bisa dijual 125ribu. Selain itu warga juga menjual bibit bunga amarilis kepada pengunjung. Harganya Rp 3.000 per pot,” bebernya.

Kini bunga itu semakin dilestarikan, karena membawa peruntungan bagi masyarakat Gunungkidul, khususnya warga masyarakat Patuk. (Bayu)

Posted from WordPress for Android

Related Post